BREAKING NEWS
Senin, 29 Juni 2026

Generasi Muda Didorong Jadi Motor Kota Tangguh Bencana di YCC APEKSI 2026

Abyadi Siregar - Senin, 29 Juni 2026 09:37 WIB
Generasi Muda Didorong Jadi Motor Kota Tangguh Bencana di YCC APEKSI 2026
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap serta Wamendagri Bima Arya Sugiarto dalam Sharing Session YCC APEKSI 2026 di Hotel Le Polonia, Medan, Minggu (28/6/2026). (foto: Pemko Medan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN– Semangat perubahan dari generasi muda mewarnai Sharing Session Youth City Changers (YCC) APEKSI 2026 yang digelar di Hotel Le Polonia, Medan, Minggu (28/6/2026).

Dalam forum tersebut, para kepala daerah dan pemerintah pusat mengajak anak muda mengambil peran penting dalam membangun kota yang tangguh menghadapi bencana melalui inovasi, kolaborasi, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Baca Juga:
Kegiatan bertema "Inspirasi Kota Tangguh" itu merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APEKSI XVIII Tahun 2026.

Hadir sebagai narasumber Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal, serta Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto.

Turut hadir Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, jajaran perangkat daerah Pemerintah Kota Medan, dan ratusan peserta YCC dari berbagai kota di Indonesia.

Dalam paparannya, Rico Waas menceritakan pengalaman Kota Medan saat menghadapi banjir besar pada 27 November 2025 yang disebut sebagai salah satu bencana terparah dalam sejarah kota tersebut.

Curah hujan tinggi selama tiga hari berturut-turut menyebabkan banjir merendam 19 dari 21 kecamatan.

Menurut Rico, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi yang cepat antara pemerintah daerah, Forkopimda, perangkat daerah, hingga para camat dalam melakukan pemetaan wilayah terdampak dan proses evakuasi.

"Banyak warga awalnya menolak dievakuasi karena mengira air akan segera surut. Ketika air naik drastis, barulah mereka meminta bantuan dalam kondisi yang sudah sangat berbahaya," kata Rico Waas.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Medan segera memetakan wilayah rawan, mengevakuasi warga, mendirikan posko bencana, mengaktifkan Belanja Tidak Terduga (BTT), serta mengerahkan seluruh perangkat daerah untuk mempercepat penanganan.

Meski demikian, proses evakuasi sempat mengalami hambatan karena sebagian warga memilih tetap bertahan di rumah hingga kondisi semakin membahayakan.

"Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat," sebut Rico Waas.

Rico juga mengungkapkan bahwa persoalan tidak berhenti setelah banjir surut.

Volume sampah meningkat tajam dari sekitar 1.500–1.700 ton per hari menjadi 6.000–6.500 ton per hari sehingga memunculkan ancaman penyakit sekaligus memperberat proses pemulihan.

Karena itu, menurutnya, penanganan bencana tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri.

Baca Juga:

Dukungan relawan, komunitas, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan pascabencana.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal menekankan pentingnya mitigasi sebelum bencana terjadi.

Belajar dari pengalaman Aceh menghadapi tsunami dan banjir, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat sistem peringatan dini, jalur evakuasi, rumah pompa, hingga edukasi kebencanaan berbasis keluarga dan sekolah.

Menurut Illiza, ketangguhan sebuah kota harus dibangun melalui kebiasaan masyarakat sehari-hari.

"Kesiapsiagaan harus menjadi budaya. Masyarakat harus tahu apa yang dilakukan saat gempa, saat banjir, ke mana harus evakuasi, dan bagaimana melindungi diri," jelasnya.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto kemudian memberikan pandangan mengenai pentingnya membangun sistem pemerintahan yang tangguh dalam menghadapi bencana.

Menurutnya, setiap bencana selalu menguji lima aspek utama, yakni sistem, kebersamaan, kepemimpinan, komunikasi, dan data.

"Bencana adalah ujian bagi sistem. Kota yang sistemnya kuat akan pulih lebih cepat. Tapi kota dengan sistem lemah akan lebih lama bangkit," kata Bima.

Ia menambahkan, bencana juga menjadi ujian bagi kualitas kepemimpinan.

Dalam situasi darurat, masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir langsung di lapangan, bukan hanya memberikan arahan dari balik meja.

Bima juga menyoroti masih lemahnya perencanaan jangka panjang di banyak daerah.

Menurutnya, sebagian pemerintah daerah masih bersifat reaktif, yakni baru bergerak ketika bencana terjadi, bukan menyiapkan langkah mitigasi sejak awal.

Baca Juga:

Ia mendorong pemerintah daerah memperkuat kerja sama dengan para ahli kebencanaan serta membangun budaya belajar dari pengalaman masa lalu agar penanganan bencana semakin efektif.

Menutup diskusi, seluruh narasumber sepakat bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam membangun kota yang tangguh.

Melalui inovasi, literasi kebencanaan, serta semangat kolaborasi, anak muda diharapkan menjadi motor perubahan dalam menciptakan kota yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rico Waas Ajak Generasi Muda Jadi Motor Perubahan Kota Tangguh di Youth City Changers APEKSI 2026
Usai Penertiban Pungli, Pengunjung Sidebuk-Debuk Melonjak hingga Pelaku Usaha Kembali Bergeliat
Warga Menanti 81 Tahun, Bobby Nasution Wujudkan Pembangunan Jalan Sipiongot: Bukan Sekadar Janji Politik
Butuh Modal Usaha? Cek Tabel KUR BRI 2026 Pinjaman Rp100 Juta, Cicilan Mulai Rp2 Jutaan per Bulan
Jokowi dan Nafsu Kuasa yang Belum Padam
Sekda Aceh Sambangi Praja IPDN Asal Aceh di Jatinangor, Perkuat Komitmen Membangun SDM Unggul
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru