BREAKING NEWS
Senin, 29 Juni 2026

Menangis Melihat Kondisi Sipiongot, Bobby Nasution Janji Hapus Daerah Tertinggal di Sumut

Nurul - Senin, 29 Juni 2026 12:32 WIB
Menangis Melihat Kondisi Sipiongot, Bobby Nasution Janji Hapus Daerah Tertinggal di Sumut
Gubernur Sumut Bobby Nasution saat menghadiri pertemuan dengan masyarakat Sipiongot di kediaman Wakil Ketua DPRD Sumut, Ihwan Ritonga, di Kompleks Menteng Indah, Medan, Minggu (28/6/2026). (foto: Diskominfo Sumut)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution mengaku tidak mampu menahan air mata saat melintasi kawasan Hutan Sipiongot, Kabupaten Padang Lawas Utara.

Pengalaman itu menjadi salah satu alasan yang mendorongnya berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah yang selama ini terisolasi.

Bobby menceritakan, peristiwa tersebut terjadi ketika dirinya melintasi kawasan Sipiongot pada dini hari.

Baca Juga:

Saat itu kondisi jalan masih sulit dilalui hingga kendaraan yang ditumpanginya terjebak di tengah hutan.

"Saya pernah lewat pukul dua pagi. Di tengah jalan, kendaraan kami terpacak, tidur di tengah hutan. Baru sekali itu saya melihat kondisi kampung yang membuat saya menangis di tempat sejak menjadi kepala daerah," ujar Bobby dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (29/6/2026).

Pengalaman itu disampaikan Bobby saat menghadiri pertemuan dengan masyarakat Sipiongot di kediaman Wakil Ketua DPRD Sumut, Ihwan Ritonga, di Kompleks Menteng Indah, Medan, Minggu (28/6/2026).

Menurut Bobby, pembangunan jalan di Sipiongot bukan sesuatu yang harus mendapat pujian.

Ia menegaskan pembangunan infrastruktur dasar merupakan kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


"Jalan Sipiongot dibangun karena masyarakat membutuhkannya. Jangan ada lagi istilah daerah tertinggal atau daerah yang seolah tidak masuk dalam peta pembangunan," tegasnya.

Selain membangun akses jalan, Bobby juga berjanji menyiapkan program beasiswa bagi putra-putri Sipiongot agar memiliki kesempatan lebih besar melanjutkan pendidikan.

Bagi masyarakat Sipiongot, pembangunan jalan dinilai bukan sekadar menghadirkan akses transportasi yang lebih baik.

Infrastruktur tersebut menjadi harapan baru setelah puluhan tahun mereka hidup dalam keterisolasian dengan akses terbatas menuju pusat ekonomi maupun pelayanan publik.

Selama ini, warga harus menempuh perjalanan yang berat untuk membawa hasil pertanian ke pasar.

Bahkan sebagian warga berjalan kaki berjam-jam melewati jalan berlumpur agar hasil panen dapat dijual.

Sebagai bentuk penghargaan atas komitmen pemerintah, masyarakat Sipiongot memberikan upah-upah kepada Bobby Nasution.

Tradisi tersebut merupakan budaya masyarakat Batak untuk mendoakan sekaligus memberi semangat kepada seseorang.

Wakil Ketua DPRD Sumut Ihwan Ritonga mengatakan pembangunan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menjadi titik balik bagi masyarakat Sipiongot yang telah menunggu perbaikan jalan selama puluhan tahun.

"Selama 12 tahun, saya di DPRD terus mengawal persoalan ini. Dulu dibangun sedikit demi sedikit, 2 kilometer (km), 5 kilometer, tetapi tidak pernah tuntas. Sekarang jalan yang menghubungkan daerah terisolasi langsung ditangani secara serius," katanya.

Menurut Ihwan, Pemprov Sumut mengalokasikan anggaran sekitar Rp283 miliar untuk pembangunan dan perbaikan 13 ruas jalan di kawasan Sipiongot dan sekitarnya.

Ia menilai dampak pembangunan mulai dirasakan masyarakat karena akses transportasi menjadi lebih mudah sehingga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

"Dulu daerah ini sering disebut tertinggal. Sekarang masyarakat merasa diperhatikan dan memiliki harapan baru untuk masa depan," ujarnya.

Kepala Desa Janji Manahan, Ali Mutarman Dalimunthe, mengaku masih mengingat sulitnya akses menuju Pasar Sipiongot ketika dirinya masih kecil.

"Saya lahir pada 1980. Saat kelas enam SD, kalau ke Pasar Sipiongot harus berjalan kaki sambil memikul hasil panen. Jalannya berlumpur dan sangat berat dilalui," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Siburbur, Sahbuddin Ritonga, mengatakan warga selama ini membutuhkan waktu hingga tiga jam untuk menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju pasar tradisional.

Kondisi tersebut membuat biaya distribusi hasil pertanian dan perkebunan menjadi tinggi sehingga harga jual komoditas, termasuk kelapa sawit, lebih rendah dibandingkan daerah lain.

Masyarakat berharap pembangunan jalan terus dilanjutkan agar aktivitas ekonomi semakin berkembang dan kesejahteraan warga di kawasan Sipiongot dapat meningkat.* (km/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kemnaker Buka Pendaftaran Magang Nasional 2026 Mulai 15 Juli! Targetkan 150 Ribu Fresh Graduate
Harganas 2026, Wagub Sumut Surya: Ketangguhan Keluarga Jadi Benteng Hadapi Tantangan Global
Jelajah Desa Jilid V, Bupati Fery Sahputra Serap Aspirasi Warga Hingga Pelosok Labuhanbatu Selatan
Lahan Pertanian Desa Sibulanbulan Masih Tertimbun Pasir, Program Rehabilitasi Hanya Habiskan Anggaran
Rico Waas Ajak Generasi Muda Jadi Motor Perubahan Kota Tangguh di Youth City Changers APEKSI 2026
Generasi Muda Didorong Jadi Motor Kota Tangguh Bencana di YCC APEKSI 2026
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru