YOGYAKARTA - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi hingga pertengahan Juni 2025. Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada Kamis (12/6/2025), tercatat sedikitnya 12 kali guguran lava pijar yang mengarah ke tiga sungai di sektor barat daya Merapi.
"Teramati tujuh kali guguran lava ke arah Kali Putih dengan jarak luncur maksimum 1.700 meter, tiga kali ke arah Kali Bebeng dengan jarak yang sama, dan dua kali ke arah Kali Krasak sejauh 2.000 meter," ungkap Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, dalam keterangan resminya, Sabtu (14/6/2025).
Dalam periode pengamatan selama 24 jam dari pukul 00.00–24.00 WIB, BPPTKG juga mencatat:
74 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–19 mm dan durasi hingga 185 detik,
135 gempa hybrid/fase banyak, dan
4 gempa vulkanik dangkal.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung secara aktif.
Secara visual, asap kawah terpantau berwarna putih, tebal, dan bertekanan lemah dengan ketinggian sekitar 25 meter dari puncak. Cuaca di sekitar gunung terpantau bervariasi dari cerah hingga hujan dengan suhu udara berkisar antara 16,4–25,5°C.
Status Merapi saat ini masih di Level III (Siaga). BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya masih tinggi, terutama guguran lava dan awan panas di sektor:
Selatan-barat daya: Sungai Boyong (maks. 5 km), Bedog, Krasak, dan Bebeng (maks. 7 km),
Tenggara: Sungai Woro (maks. 3 km) dan Gendol (maks. 5 km).
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di area potensi bahaya dan tetap waspada terhadap risiko lahar saat hujan maupun gangguan abu vulkanik.