BREAKING NEWS
Selasa, 27 Januari 2026

Hari Ayah Nasional: Saatnya Akhiri ‘Fatherless Generation’ di Indonesia

Raman Krisna - Rabu, 12 November 2025 13:26 WIB
Hari Ayah Nasional: Saatnya Akhiri ‘Fatherless Generation’ di Indonesia
Hari ayah nasional. (Foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Setiap 12 November, Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional, sebuah momentum yang seharusnya tidak hanya diisi dengan ucapan syukur, tetapi juga refleksi atas peran ayah dalam keluarga.

Di tengah perubahan sosial dan tekanan ekonomi, masih banyak anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran emosional sosok ayah sebuah kondisi yang dikenal sebagai fatherless.

Psikolog keluarga Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., menyebut fenomena fatherless tidak hanya terjadi pada anak yang ayahnya meninggalkan rumah secara fisik.

Baca Juga:

Lebih banyak lagi anak yang tumbuh bersama ayah yang hadir secara raga, namun absen secara perasaan."Ketidakhadiran ayah bisa membuat anak merasa tidak cukup berharga atau tidak pantas dicintai. Pola ini bisa terbawa hingga dewasa jika tidak disadari dan diproses," ujar Sukmadiarti, dikutip Rabu (12/11/2025).

Menurutnya, langkah pertama untuk memutus rantai fatherless adalah menyadari luka emosional yang muncul akibat ketidakhadiran tersebut. "Yang penting adalah bagaimana seseorang memahami luka itu, berdamai dengan masa lalunya, dan tidak mengulang pola yang sama pada anaknya kelak," katanya.

Psikolog klinis Widya S. Sari, M.Psi., menambahkan bahwa banyak anak yang baru menyadari dampak fatherless ketika mereka dewasa saat mulai memahami relasi, keintiman, dan pola komunikasi keluarga."Banyak anak tumbuh dengan ayah di rumah, tapi secara emosional mereka sendirian. Hadir secara fisik tidak selalu berarti hadir secara emosional," ujarnya.

Widya menjelaskan, kesadaran ini penting karena hubungan dengan ayah menjadi fondasi bagi rasa aman dan kepercayaan diri anak. Tanpa itu, banyak individu dewasa yang kesulitan membangun hubungan yang sehat.

Budaya patriarki seringkali menempatkan ayah sebagai penyedia materi semata.

Padahal, kata Sukmadiarti, kehadiran emosional ayah memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan mental dan sosial anak.

"Anak perlu merasa aman, diterima, dan disayangi oleh kedua orang tuanya. Ketika ayah tidak terlibat, anak kehilangan separuh sumber afeksi dan validasi yang dibutuhkannya," tuturnya.Hari Ayah Nasional, kata Sukmadiarti, bisa menjadi momentum untuk mendefinisikan ulang makna kehadiran seorang ayah dari sekadar pencari nafkah menjadi pendamping tumbuh kembang anak.

Kehadiran ayah sejati tidak harus ditunjukkan dengan hal besar."Cukup dengan menyediakan waktu untuk mendengarkan anak tanpa menghakimi, hadir ketika mereka ingin bercerita, dan menunjukkan kasih sayang dalam bentuk sederhana," katanya.

Momentum Hari Ayah Nasional tahun ini, lanjutnya, sebaiknya dimaknai sebagai ajakan bagi keluarga untuk lebih terbuka, saling mendengarkan, dan memulihkan komunikasi. Sebab, ayah yang hadir secara emosional adalah pondasi bagi lahirnya generasi yang kuat, tangguh, dan berempati.*

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru