Kondisi terparah terjadi di Sibolga dan Tapanuli Tengah, yang hingga kini masih terisolasi akibat longsor yang menutup total akses jalan.
"Korban meninggal terbanyak berada di daerah Sibolga, kurang lebih 33 orang," ujar Kombes Pol Ferry Walintukan, Kabid Humas Polda Sumut, dari Posko Terpadu Kontingensi Penanggulangan Bencana Alam Wilayah Tapanuli Utara.
Meski medan ekstrem dan akses tertutup, tim SAR gabungan Brimob, Polres, Basarnas, TNI, BPBD, relawan, dan warga lokal terus melakukan pencarian.
Perahu karet, alat berat, dan jalur alternatif melalui perkampungan dimanfaatkan untuk menjangkau lokasi yang tidak bisa dilewati kendaraan.
Ferry menegaskan, upaya evakuasi menjadi prioritas utama.
"Kami tetap melakukan upaya untuk bisa evakuasi korban di Sibolga, meski bantuan tertahan akibat longsor," ujarnya. Setiap proses evakuasi berlangsung haru, terutama bagi keluarga korban yang menunggu kabar di pinggir jalan berlumpur.
Di tengah cuaca ekstrem dan arus sungai deras, komunikasi darurat tetap dijalankan menggunakan perangkat yang tersedia, sementara jalur logistik diupayakan melalui berbagai rute alternatif.
Semangat kemanusiaan menjadi penggerak utama bagi ratusan personel untuk terus bergerak meski akses terputus dan situasi belum sepenuhnya pulih.
Polda Sumut memastikan, operasi pencarian dan pertolongan akan terus berlangsung hingga korban terakhir ditemukan dan seluruh warga terdampak menerima bantuan.*