PIDIE JAYA -Tanah yang dikenal bangkit dari trauma Tsunami kini kembali diterjang krisis. Sekolah-sekolah Muhammadiyah yang hancur akibat banjir bandang di Aceh disebut Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh, Iskandar Muda Hasibuan, sebagai "peti mati" bagi harapan anak-anak di Serambi Mekkah.
Usai meninjau kondisi SD Muhammadiyah Meuredu – Pidie Jaya, Iskandar Muda tidak hanya melaporkan kerusakan fisik, tetapi juga dampak psikologis yang parah terhadap siswa dan guru.
Ratusan ruang kelas, ribuan buku pelajaran, seragam, dan perangkat belajar telah tersapu banjir, memutus akses anak-anak pada ilmu pengetahuan.
"Kami melihat tangisan anak-anak kehilangan buku kesayangan mereka. Guru-guru yang trauma, kehilangan rumah, harus segera mengobati trauma siswa. Ini adalah beban ganda yang tak terperikan," ujar Iskandar dengan nada bergetar.
Seruan Moral dan Strategi Pemulihan
Iskandar menegaskan bahwa pendidikan adalah "vaksin terbaik melawan keputusasaan", dan kini vaksin itu terancam hilang.
Untuk mencegah Aceh kehilangan generasi masa depan, ia menyerukan langkah strategis:
Rekonstruksi Jiwa dan Raga: Program trauma healing intensif untuk memulihkan ketahanan psikologis siswa dan guru.
Penyelamatan Logistik Belajar: Distribusi paket belajar darurat, termasuk bangku, alat tulis, dan modul sementara, ke lokasi-lokasi terpencil.
Investasi Ketahanan Abadi: Mendirikan sekolah tangguh bencana (resilient schools) dengan integrasi kurikulum mitigasi bencana, agar generasi mendatang terlindungi dari ancaman serupa.
"Jika kita gagal menyelamatkan sekolah mereka hari ini, kita merampas masa depan mereka esok hari. Mari bersama-sama menyalakan kembali api impian anak-anak Aceh," tutup Iskandar.*