Puncak aktivitasnya terjadi menjelang fase kuartal ketiga Bulan, sehingga cahaya Bulan relatif tidak terlalu terang dan kondisi langit cukup ideal untuk pengamatan.
Dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, titik radian hujan meteor berada di rasi Centaurus, yang mulai terbit di ufuk timur sekitar pukul 21.54 WIB.
Fenomena ini dapat disaksikan hingga menjelang fajar, sekitar pukul 05.32 WIB, dengan waktu terbaik pengamatan pada dini hari sebelum Matahari terbit.
Menurut pakar astronomi dari Star Walk Space, hujan meteorAlpha Centaurid pada puncaknya mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 meteor per jam.
Meteor-meteor tersebut dikenal bergerak cepat dan meninggalkan jejak cahaya terang di langit malam.
Secara geografis, titik radian Alpha Centaurid bersifat hampir circumpolar di Belahan Bumi Selatan, sehingga fenomena ini dapat diamati lebih lama di wilayah seperti Australia, Selandia Baru, Afrika bagian selatan, dan Amerika Selatan.
Di kawasan tersebut, pengamatan optimal biasanya dilakukan setelah tengah malam ketika radian berada lebih tinggi di langit.
Hujan meteor ini berasal dari rasi Centaurus, kawasan langit yang juga dikenal sebagai lokasi Alpha Centauri, bintang terdekat dengan Matahari.
Titik radian hujan meteor berada sekitar empat derajat barat laut dari bintang Hadar (Beta Centauri).