Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa sejak lama dirinya sudah terbiasa blusukan dan langsung merespons keluhan masyarakat tanpa menunggu anggaran resmi.
"Memanen cinta. Apa yang saya raih hari ini bukan ujug-ujug yang saya perbuat hari ini. Itu perjalanan lama sejak saya kecil, sejak menjadi anggota DPRD Kabupaten," katanya.
"Bertemu orang, berkunjung dari rumah ke rumah, kemudian mengambil tindakan-tindakan cepat terhadap sebuah peristiwa tanpa harus bicara anggaran. Itu kebiasaan saya," tutupnya.
Pernyataan ini menjadi respons atas maraknya tudingan penggunaan buzzer oleh tokoh politik untuk membentuk opini dan pencitraan di dunia digital, terutama menjelang tahun politik.*