Rapat digelar di ruang paripurna DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (19/2/2026).
Dalam pidatonya, Puan menyampaikan bahwa DPR RI telah merespons berbagai isu strategis, mulai dari perekonomian, reformasi hukum, perlindungan sosial, hingga politik luar negeri yang berprinsip bebas aktif.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antarnegara dalam menghadapi dinamika global, di mana stabilitas hanya dapat dicapai melalui diplomasi yang efektif dan berorientasi pada solusi damai.
"Pemerintah harus mengoptimalkan posisi strategis Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB maupun dalam Dewan Perdamaian untuk berkontribusi nyata terhadap penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza," tegas Puan.
Ia menegaskan diplomasi Indonesia harus berlandaskan prinsip kesetaraan kedaulatan negara dan hukum internasional.
Puan juga menyinggung diplomasi parlemen, di mana DPR memperkuat hubungan bilateral dengan sejumlah negara sahabat, seperti Korea Selatan, Jepang, Sudan, Kuwait, Iran, Kuba, Albania, Afrika Selatan, Aljazair, dan Amerika Serikat.
Ia menekankan DPR berperan aktif dalam mendukung politik luar negeri Indonesia, membangun kepercayaan antarnegara, serta mendorong dialog atas berbagai isu global.
Selain diplomasi, Puan menekankan penguatan kemandirian ekonomi, ketahanan pangan dan energi, serta penguatan UMKM dan perlindungan tenaga kerja.
Di bidang sosial, DPR fokus pada pendidikan, kesehatan, dan perlindungan kelompok rentan, sementara bidang politik diarahkan pada penegakan demokrasi, supremasi hukum, dan hak asasi manusia.
"Kehadiran Indonesia dalam ekosistem global harus menjadi peluang untuk memperkuat kedaulatan, kesejahteraan, dan martabat bangsa," tutup Puan.
Rapat paripurna ini turut dihadiri para Wakil Ketua DPR, antara lain Saan Mustopa, Cucun Ahmad Syamsurijal, Sufmi Dasco Ahmad, dan Sari Yuliati.*