Tragedi Anak Krakatau dan Tanggung Jawab Negara Melindungi Jurnalis
Oleh Yakub F. IsmailDUKA nasional belum berakhir. Misteri hilangnya lima jurnalis bersama kru Speedboat Arupadhatu 1 sampai kini masih belu
OPINI
JAKARTA — Pemerintah tengah mendorong implementasi bioavtur dari minyak jelantah sebagai bagian dari langkah menuju energi ramah lingkungan dalam sektor penerbangan.
Namun, di balik potensi keberlanjutannya, pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menyebut bahwa penggunaan bioavtur ini memiliki tantangan besar, terutama dalam hal harga dan ketersediaan produksi.
"Kalau sudah menjadi bioavtur, itu sudah aman digunakan. Tapi masalahnya adalah harganya yang masih mahal dan jumlah produksinya terbatas. Kalau harga bioavturnya mahal dan jumlahnya terbatas, tentu saja ini tidak worth it bagi maskapai," kata Gatot, Selasa (17/6).
Menurut Gatot, penggunaan bioavtur berpotensi menaikkan harga tiket pesawat, karena akan menambah beban biaya operasional maskapai.
Padahal, tarif batas atas untuk tiket pesawat belum ikut naik.
"Kalau maskapai pakai bioavtur saat ini, tentu akan rugi bahkan bisa bangkrut. Jadi harus dipastikan dulu maskapai tidak rugi, terutama terkait harganya harus setara dengan avtur biasa, produksinya kontinyu, dan distribusinya merata di seluruh Indonesia," ujarnya.
Gatot mengungkapkan bahwa Singapura saat ini menjadi salah satu negara produsen bioavtur dari minyak jelantah, dengan bahan baku justru berasal dari Indonesia.
Bioavtur tersebut diekspor ke Amerika Serikat. Kondisi ini memperlihatkan kelemahan tata kelola jelantah dalam negeri.
"Potensi produksi bioavtur dari minyak jelantah di Indonesia sangat besar karena kita banyak menghasilkan jelantah, tapi selama ini belum dikumpulkan secara sistematis. Ironisnya, yang sudah terkumpul malah diekspor," jelas Gatot.
Ia menilai ini adalah momentum bagi pemerintah untuk mengatur tata kelola minyak jelantah, agar bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan nasional, bukan dikirim ke luar negeri.
Sebagai bagian dari komitmen mitigasi perubahan iklim, pemerintah menargetkan penggunaan campuran 5 persen bioavtur (Sustainable Aviation Fuel/SAF) pada tahun 2025.
Target tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 8 Tahun 2023.
Inspektur Kelaikan Udara Kementerian Perhubungan, Sayuta Senobua, menyebut target ini sejalan dengan Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2015, yang sebelumnya sudah menargetkan campuran bioavtur sebesar 2 persen pada 2016 dan 3 persen pada 2020.
Meskipun rencana tersebut menunjukkan niat serius pemerintah dalam menghadirkan aviasi berkelanjutan, pengamat mengingatkan agar implementasinya tidak mengorbankan keseimbangan biaya operasional maskapai dan kenyamanan publik sebagai pengguna jasa penerbangan.*
(km/a008)
Oleh Yakub F. IsmailDUKA nasional belum berakhir. Misteri hilangnya lima jurnalis bersama kru Speedboat Arupadhatu 1 sampai kini masih belu
OPINI
LANGKAT Ketua Persadaan Merga Silima (PMS) Kabupaten Langkat, Edi Bahagia Sinuraya, S.IP, bersama jajaran pengurus dan panitia pelantika
NASIONAL
MEDAN Ombudsman RI didesak mengambil langkah hukum dengan memidanakan seluruh petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang menghalanghal
PERISTIWA
JAKARTA Harga emas Antam pada Sabtu, 26 September 2026, kembali menguat. Harga emas batangan 1 gram yang dipasarkan melalui Logam Mulia
EKONOMI
JAKARTA Guru Besar Universitas Trisakti sekaligus pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah, menyoroti pembahasan Rancangan Undang
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Generasi yang tumbuh pada era 2000an tentu tidak asing dengan ponsel Nokia. Merek asal Finlandia tersebut pernah menjadi salah
SAINS DAN TEKNOLOGI
DAIRI Seorang anggota Polres Dairi, Aiptu Herbin Silaen, meninggal dunia saat menjalankan tugas membantu proses evakuasi korban kebakara
PERISTIWA
MINAHASA Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengingatkan kader partainya agar tidak menyalahgunakan uang negara. Ia bahkan
POLITIK
JAKARTA Presiden ke7 RI Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan duka cita atas meninggalnya Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra atau Guruh
NASIONAL
BANDA ACEH Tim Opsnal Ranmor Satreskrim Polresta Banda Aceh mengamankan dua pelajar berinisial FM, 13 tahun, dan RKF, 15 tahun. Keduanya
HUKUM DAN KRIMINAL