Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN (BITV) — OpenAI, pengembang di balik teknologi ChatGPT, berencana meluncurkan platform pekerjaan baru yang didukung kecerdasan buatan (AI) pada tahun depan.
Inisiatif ini bertujuan mempertemukan pemberi kerja dengan kandidat berkompetensi AI guna mempercepat adopsi teknologi tersebut di sektor bisnis dan lembaga pemerintahan.
Selain itu, OpenAI akan memperkenalkan program sertifikasi dalam beberapa bulan ke depan untuk mengajarkan keterampilan AI yang dibutuhkan di tempat kerja.
Program ini digagas bekerja sama dengan sejumlah organisasi besar, termasuk Walmart Inc, perusahaan swasta terbesar di Amerika Serikat.
Targetnya, program sertifikasi ini dapat menjangkau hingga 10 juta orang Amerika pada 2030.
Peluncuran inisiatif ini bertepatan dengan pertemuan satgas Gedung Putih terkait AI dan pendidikan yang digelar Kamis (4/9/2025) dan dihadiri para pemimpin teknologi seperti Sam Altman (CEO OpenAI) dan Sundar Pichai (CEO Alphabet Inc.).
Sam Altman juga dijadwalkan bertemu dengan pejabat senior Gedung Putih untuk membahas pengembangan AI secara lebih luas.
Fidji Simo, CEO aplikasi di OpenAI, mengatakan, "Kami percaya AI akan membuka lebih banyak peluang bagi lebih banyak orang daripada teknologi apa pun dalam sejarah. Meski disrupsi tidak bisa dihindari, kami berupaya membantu banyak orang menjadi fasih dalam AI sekaligus menghubungkan mereka dengan perusahaan yang membutuhkan keterampilan tersebut."
Platform pekerjaan OpenAI akan memanfaatkan teknologi AI untuk mencocokkan pemerintah lokal dan berbagai perusahaan dengan calon pekerja yang memiliki kompetensi AI.
Langkah ini akan membuat OpenAI bersaing langsung dengan platform seperti LinkedIn, yang merupakan bagian dari Microsoft, salah satu pendukung utama OpenAI.
Simo menambahkan, "Kami tidak membayangkan ini hanya sebagai lowongan pekerjaan biasa. Calon pekerja dapat menunjukkan keahlian mereka melalui sertifikasi, dan AI akan membantu mencocokkan mereka dengan perusahaan yang memiliki kebutuhan serupa."
Program sertifikasi yang sedang dikembangkan bersama Walmart akan diberikan secara gratis kepada sekitar 1,6 juta karyawan Walmart di AS, dengan materi yang disesuaikan berdasarkan peran masing-masing.
Namun, untuk perusahaan lain, sertifikasi ini kemungkinan akan dikenakan biaya.
John Furner, CEO bisnis Walmart di AS, mengungkapkan, "Masa depan ritel akan ditentukan oleh perpaduan manusia dan teknologi. Saat ini, karyawan kami sudah menggunakan AI untuk merencanakan shift dan mengelola inventaris, dengan berbagai alat baru yang mulai diterapkan untuk pelanggan dan pemasok. Tujuannya adalah membebaskan waktu karyawan agar bisa fokus pada tugas bernilai tambah, seperti berinteraksi langsung dengan pelanggan."
Meski AI membawa peluang, kekhawatiran terkait penggantian tenaga kerja juga meningkat.
Studi terbaru dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, pekerjaan bagi pendatang baru di bidang-bidang yang rentan terhadap AI, seperti akuntansi, pengembangan perangkat lunak, dan asisten administrasi, menurun sebesar 13%.
Menanggapi hal ini, Simo menyatakan, "Kami tidak berpura-pura mengetahui bagaimana AI akan berkembang. Yang kami lakukan adalah memberikan solusi bagi semua pekerja agar dapat beradaptasi dengan dunia baru ini."
Ia mengingatkan bahwa di masa lalu, software seperti Excel sempat dipandang sebagai ancaman bagi akuntan, namun kini justru menjadi alat bantu utama mereka.
Furner juga menyoroti perkembangan peran baru di Walmart seperti pengambilan dan pengiriman barang secara online yang belum ada satu dekade lalu, namun kini menjadi bagian penting dari tenaga kerja mereka.
"Sementara beberapa pekerjaan memang akan sangat terganggu, kami berkomitmen menyediakan berbagai cara agar pekerja dapat mempelajari keterampilan baru yang relevan dengan perubahan zaman," tutup Simo.*
(bb/a008)
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.