BREAKING NEWS
Sabtu, 28 Februari 2026

DeepMind: AI Akan Pangkas Waktu Penemuan Obat Jadi Hitungan Bulan

- Jumat, 12 September 2025 15:09 WIB
DeepMind: AI Akan Pangkas Waktu Penemuan Obat Jadi Hitungan Bulan
Kepala laboratorium AI milik Alphabet Inc., Demis Hassabis. (foto: tangkapan layar yt WIRED)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN — Teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai akan merevolusi dunia medis, khususnya dalam penemuan dan pengembangan obat.

Kepala laboratorium AI milik Alphabet Inc., Demis Hassabis, optimistis bahwa proses penemuan obat yang selama ini memakan waktu bertahun-tahun akan bisa dipersingkat menjadi hanya beberapa bulan, berkat dukungan AI.

"Dalam beberapa tahun ke depan, saya ingin melihat waktu tersebut dipangkas menjadi hitungan bulan, bukan tahun. Mungkin bahkan lebih cepat," kata Hassabis dalam wawancara bersama Bloomberg Television, Jumat (12/9/2025).

Hassabis saat ini memimpin dua unit utama Alphabet: Google DeepMind, yang berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan, dan Isomorphic Labs, divisi yang secara khusus mengeksplorasi potensi AI dalam penemuan obat-obatan.

Sejak diluncurkan pada tahun 2021, Isomorphic Labs telah menjalin kemitraan strategis dengan dua raksasa farmasi global, yaitu Eli Lilly & Co. dan Novartis AG.

Kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam mengaplikasikan AI untuk merancang terapi medis secara lebih efisien.

Teknologi ini telah diakui dapat mempercepat akses pasien terhadap pengobatan baru, menekan biaya pengembangan, serta meningkatkan respons terhadap krisis kesehatan global.

Namun, hingga saat ini, belum ada obat berbasis AI yang berhasil melewati seluruh tahapan uji klinis dan sampai ke tangan pasien.

"Kami telah menunjukkan beberapa bukti awal untuk membawa obat ke tahap uji klinis, tetapi masih terlalu dini untuk memastikan jadwalnya," ujar Hassabis dari kantor DeepMind di London.

Isomorphic Labs merupakan turunan komersial dari AlphaFold, sistem AI milik DeepMind yang dapat memprediksi perilaku protein secara akurat.

Hassabis bersama ilmuwan DeepMind lainnya, John Jumper, baru-baru ini dianugerahi Penghargaan Nobel Kimia 2024 atas pencapaian mereka di bidang tersebut.

Menurut Hassabis, timnya kini sedang mengembangkan versi AlphaFold yang lebih canggih, dengan kemampuan untuk memahami interaksi molekuler yang lebih kompleks, tak hanya terbatas pada protein.

Perusahaan juga tengah mengejar pengembangan terapi untuk kanker dan gangguan imun, yang dinilai sebagai jalur yang cukup menjanjikan dalam menghubungkan algoritma AI dengan hasil klinis yang nyata.

"Obat yang dikembangkan oleh AI berpotensi mengubah kanker menjadi penyakit kronis yang dapat dikendalikan," kata Rebecca Paul, Direktur Desain Obat Medis di Isomorphic Labs.

Dalam kolaborasi terbarunya, Isomorphic Labs dan Novartis kini tengah fokus pada enam target terapi baru, meningkat dari tiga target sebelumnya.

Meski belum merinci lebih lanjut, Rebecca Paul menyebut terdapat "kemajuan sangat baik" dalam kerja sama tersebut.

Hassabis juga menyatakan ambisinya untuk membangun bisnis senilai lebih dari US$100 miliar dari sektor ini.

Sebagai langkah awal, Isomorphic Labs berhasil menggalang dana sebesar US$600 juta awal tahun ini, yang dipimpin oleh perusahaan modal ventura Thrive Capital.

Dengan potensi besar dan dukungan finansial kuat, AI dinilai tak lagi sekadar menjadi alat bantu riset, melainkan aktor utama dalam revolusi farmasi global.*

(bb/a008)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru