JAKARTA — Matahari selama ini dikenal sebagai pusat tata surya sekaligus sumber utama cahaya dan energi bagi kehidupan di Bumi.
Namun, di balik peran vitalnya, tidak banyak yang menyadari bahwa Matahari sejatinya adalah sebuah bintang, satu-satunya bintang yang terlihat jelas oleh mata manusia setiap hari.
Dalam ilmu astronomi, bintang didefinisikan sebagai benda langit yang memproduksi energi melalui reaksi fusi nuklir di inti mereka.
Proses ini mengubah hidrogen menjadi helium dan melepaskan energi dalam bentuk panas dan cahaya.
Dengan definisi ini, Matahari memenuhi seluruh syarat untuk disebut sebagai bintang.
Matahari tidak berbeda dengan jutaan bintang lain yang tersebar di galaksi, hanya saja letaknya sangat dekat dengan Bumi, sekitar 150 juta kilometer, sehingga terlihat lebih terang dan besar dibanding bintang lain di langit malam.
Matahari terdiri dari sekitar 75 persen hidrogen dan 24 persen helium, komposisi umum yang juga dimiliki oleh bintang-bintang lain.
Di inti Matahari, terjadi reaksi fusi nuklir yang mengubah hidrogen menjadi helium.
Proses ini melepaskan energi yang kemudian dipancarkan ke seluruh penjuru tata surya, termasuk ke Bumi.
Energi yang dihasilkan bukan hanya berbentuk panas, tapi juga gelombang elektromagnetik berupa cahaya.
Inilah yang menjadikan Matahari sumber utama energi kehidupan di planet kita, dari pertumbuhan tanaman hingga menjaga iklim global tetap stabil.
Secara ilmiah, Matahari diklasifikasikan sebagai bintang tipe G (G-type main-sequence star) atau bintang kuning.