BREAKING NEWS
Sabtu, 10 Januari 2026

Benarkah Hari di Bumi Bisa 25 Jam? Ini Penjelasan Ilmuwan

Adam - Kamis, 01 Januari 2026 09:58 WIB
Benarkah Hari di Bumi Bisa 25 Jam? Ini Penjelasan Ilmuwan
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Fenomena "hari 25 jam di Bumi" kembali ramai dibicarakan di media sosial.

Banyak unggahan viral menampilkan klaim seolah durasi sehari akan segera bertambah satu jam, padahal para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan ini terjadi secara perlahan dan tidak berdampak pada kehidupan manusia saat ini.

Rotasi Bumi memang melambat, namun prosesnya berlangsung sangat lambat, dengan laju sekitar 1,7 milidetik per abad.

Baca Juga:

Berdasarkan penelitian, satu hari di Bumi baru akan mencapai 25 jam sekitar 200 juta tahun mendatang, jauh dari jangkauan kehidupan manusia modern.

Ada beberapa faktor utama yang membuat Bumi berputar lebih lambat:
- Gaya pasang surut Bulan: Tarikan gravitasi Bulan terhadap lautan menimbulkan gesekan yang perlahan memperlambat rotasi Bumi.
- Pergerakan inti dan mantel: Aliran besi cair di inti dan dinamika mantel mengubah distribusi massa, memengaruhi kecepatan putaran planet.
- Perubahan gletser dan permukaan laut: Mencair atau menumpuknya es memengaruhi distribusi berat antara daratan dan laut.
- Atmosfer dan pola angin: Momentum udara yang bergerak di permukaan Bumi turut memengaruhi rotasi.

Proses-proses ini telah berlangsung selama miliaran tahun. Di masa dinosaurus, satu hari diperkirakan hanya berlangsung sekitar 23 jam.

Dampak Jangka Panjang Jika Hari Menjadi 25 Jam
Jika suatu saat hari di Bumi benar-benar mencapai 25 jam, sistem penanggalan dan jam akan membutuhkan penyesuaian.

Selain itu, ritme biologis makhluk hidup, termasuk manusia, juga akan terpengaruh.

Ritme sirkadian 24 jam yang mengatur siklus tidur, produksi hormon, dan metabolisme dapat terganggu, mirip kondisi jet lag atau pekerja shift malam.

Meski demikian, perubahan ini berlangsung sangat lambat, sehingga organisme hidup diperkirakan dapat beradaptasi melalui evolusi tanpa dampak signifikan bagi kehidupan manusia modern.

Para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini lebih merupakan fakta ilmiah jangka panjang, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan sekarang.*


Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Bupati Deli Serdang Resmikan Gedung PKBM ABK Adiba, Dorong Pendidikan Inklusif 2026
Jangan Lewatkan Wolf Moon 2026! Bulan Purnama dan Fenomena Langit Menakjubkan Awal Tahun
Butuh Modal Usaha? UMKM Bisa Ajukan KUR BRI 2025, Cicilan Mulai Rp216 Ribu per Bulan
Pencurian Motor di Masjid Helvetia, Polisi Lumpuhkan Pelaku
BMKG: Gempa Magnitudo 3,5 Terjadi Akibat Aktivitas Subduksi di Nias Selatan
Modal Usaha Makin Mudah! Simulasi KUR BRI 2025 Mulai Rp10 Juta
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru