KPK Kejar Jejak Suap Ijon Proyek Rp980 Juta, 8 Saksi Diperiksa dan 3 Lokasi Digeledah
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa delapan saksi untuk mendalami konstruksi perkara dugaan tindak pidana korupsi berup
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN - Di persimpangan Jalan Pemuda, Kota Medan, berdiri tegak sebuah monumen yang memikat perhatian siapa pun yang melintas: Monumen Kemenangan Perjuangan 27 Desember 1949.
Lidah api merah setinggi tujuh meter menjulang, seolah menyala tak hanya dari logam dan beton, tapi juga dari semangat kemerdekaan yang tak pernah padam.
Monumen ini bukan sekadar bangunan, melainkan saksi bisu fase paling krusial dalam kedaulatan Indonesia di Sumatera.Baca Juga:
Pada 27 Desember 1949, dunia internasional secara resmi mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Di Medan, peristiwa itu ditandai dengan penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan antara pihak Belanda yang diwakili Jenderal Mayoor P. Scholten dan pihak Indonesia yang diwakili Kolonel A.E. Kawilarang.
Prasasti monumen menegaskan makna historis peristiwa tersebut:
"Peristiwa 27 Desember 1949 merupakan mata rantai peristiwa Nasional, suatu bukti kebesaran Bangsa Indonesia, bukti Kemenangan Perang Kemerdekaan 1945-1949 dan tegak kokohnya kedaulatan Republik Indonesia yang diakui serta didukung seluruh dunia."
Pembangunan monumen ini diprakarsai oleh para pelaku sejarah yang ingin memastikan memori kolektif bangsa tidak pudar.
Arsip Museum Perjuangan TNI menegaskan, monumen ini hadir untuk menghidupkan dokumen-dokumen sejarah yang selama ini tersimpan di ruang museum:
"Disadari oleh para Pelaku sejarah Bangsa Indonesia bahwa buku, tulisan dan bukti fisik peristiwa 27 Desember 1949 belum banyak terlestarikan dan belum dikenal masyarakat umum, terutama bagi generasi penerus."
Monumen ini juga sarat simbolisme. Dengan tinggi 17 meter, 49 pilar, 3 rumpun pilar, 7 meter lidah api, dan 12 anak tangga, setiap angka dan bentuknya merefleksikan sejarah perjuangan bangsa.
Diresmikan pada 5 Oktober 1998 oleh Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Ismed Yuzairi, monumen ini diharapkan menjadi "Dian Motivasi Pembangunan" bagi warga Medan, pengingat bahwa kemerdekaan adalah buah tekad, tindakan, dan persatuan laskar rakyat, pemuda, serta tentara.*
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa delapan saksi untuk mendalami konstruksi perkara dugaan tindak pidana korupsi berup
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Partai Gerindra menempati posisi teratas dalam survei elektabilitas partai politik yang dilakukan Indonesia Political Opinion (I
POLITIK
JAKARTA Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF 2026. Skuad Garuda hanya mampu finis di pering
OLAHRAGA
JAKARTA Bank Indonesia kembali membuka kesempatan kerja melalui Seleksi Penerimaan Pendidikan Calon Pegawai Asisten Manajer (PCPM) Angka
NASIONAL
JAKARTA Memilih laptop gaming dengan harga sekitar Rp10 juta hingga Rp15 jutaan kini semakin menarik. Di kelas harga tersebut, konsumen su
SAINS DAN TEKNOLOGI
JAKARTA Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol TNI Teddy Indra Wijaya menanggapi pandangan yang menyebut Sekolah Rakyat tidak bermutu. Teddy
PENDIDIKAN
MEDAN Perempuan berinisial WLG, mantan istri anggota polisi yang ditemukan meninggal dunia dengan luka tembak di Medan, Sumatera Utara,
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kinerja dua tahun pemeri
POLITIK
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengisi malam minggu bersama warga Medan Tembung pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Melalui kegi
PEMERINTAHAN
JAKARTA Gedung Kesenian Jakarta menjadi ruang perjumpaan beragam ekspresi seni tradisi dalam Festival Bedhayan ke6 Tahun 2026 yang dige
SENI DAN BUDAYA