Inovasi Teknologi Dongkrak Produksi PT Pertamina EP Sangasanga Field Lampaui Target RKAP
KALTIM PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field mengawali tahun 2026 dengan capaian kinerja di atas target. Hingga akhir Januari 2026, rea
EKONOMI
MEDAN – Bagi masyarakat Batak Toba, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian integral dari tatanan kosmis yang menghubungkan manusia, leluhur, dan kekuatan adikodrati.
Cara pandang ini, dikenal sebagai kosmologi Batak, membentuk adat, ritual, dan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sistem kosmologi Batak Toba, alam semesta dibagi menjadi tiga lapisan utama: Banua Ginjang (dunia atas), Banua Tonga (dunia tengah), dan Banua Toru (dunia bawah).Baca Juga:
Pembagian ini bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi dasar masyarakat Batak memahami kehidupan dan kematian.
Antropolog J.C. Vergouwen menjelaskan bahwa struktur kosmologi ini tercermin dalam tata sosial dan praktik ritual masyarakat Batak Toba.
"Pandangan kosmis orang Batak memengaruhi cara mereka mengatur kehidupan sosial, hubungan dengan alam, dan praktik ritual," tulis Vergouwen dalam kajiannya.
Alam Sebagai Penanda
Fenomena alam seperti pergerakan matahari, bulan, dan bintang dijadikan penanda waktu serta pertanda penting.
Pengetahuan ini tersimpan dalam pustaha laklak, naskah tradisional Batak yang ditulis di atas kulit kayu.
Filolog Uli Kozok mencatat dalam Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak bahwa pustaha tidak hanya berisi mantra atau pengobatan, tetapi juga sistem pengetahuan kosmologis yang digunakan untuk menentukan waktu ritual, pertanian, hingga perjalanan jauh.
Peran Datu dan Parbaringin
Penafsiran tanda-tanda alam tidak dilakukan sembarang orang.
Datu atau parbaringin—tokoh adat yang menguasai pengetahuan kosmologi dan penanggalan—memegang otoritas moral dalam pengambilan keputusan.
Vergouwen menekankan, "Pengetahuan tentang alam dan kosmos memberi legitimasi adat bagi para datu dalam membimbing masyarakat."
Kosmologi Tercermin dalam Tata Ruang
Kosmologi Batak juga terlihat dalam tata ruang huta atau kampung.
Posisi rumah adat, lumbung, dan area ritual diatur menurut pandangan kosmis, bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya.
Tata ruang ini bukan sekadar praktis, tetapi simbolis, mencerminkan hubungan harmonis antara dunia manusia dan dunia leluhur.
Jejak yang Masih Bertahan
Meski masuknya agama dan sistem pengetahuan modern perlahan menggeser praktik kosmologi tradisional, jejaknya masih tampak dalam ritual adat, simbol, dan penghormatan terhadap alam.
Kosmologi Batak Toba menunjukkan bahwa jauh sebelum ilmu pengetahuan modern berkembang, masyarakat lokal telah memiliki sistem pemikiran kompleks untuk memahami alam semesta dan menata kehidupan sosial.*
(d/ad)
KALTIM PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field mengawali tahun 2026 dengan capaian kinerja di atas target. Hingga akhir Januari 2026, rea
EKONOMI
BADUNG Ratusan peserta mengikuti kegiatan pembersihan sampah di kawasan Pantai Kedonganan, Jimbaran, dan Kelan, Kabupaten Badung, Sabtu
NASIONAL
AMERIKA SERIKAT Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menekan Presiden Israel Isaac Herzog terkait kasus hukum yang menjerat Per
INTERNASIONAL
JAKARTA Kepolisian belum melakukan penahanan terhadap Habib Bahar bin Smith, tersangka kasus dugaan penganiayaan terhadap anggota Banser
HUKUM DAN KRIMINAL
GIANYAR Personel Polisi Banjar Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Gianyar melakukan kegiatan sambang masyarakat di pe
NASIONAL
ASAHAN Bupati Asahan di Wakili oleh Wakil Bupati Asahan Rianto SH MAP menghadiri kegiatan penanaman jagung perdana dalam rangka program
PERTANIAN AGRIBISNIS
TAPTENG Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) berinisial JS menyerahkan klarifikasi setelah beredar rekaman suara yang di
PERISTIWA
PONTIANAK Komisi VI DPR RI menegaskan komitmen kuat dalam mengawal agenda hilirisasi pertambangan nasional, khususnya pembangunan Smelte
EKONOMI
NIAS SELATAN Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya kepada sembilan kapolres, termasuk AKBP
NASIONAL
MEDAN Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Medan, Fonika Affandi, memberikan piagam penghargaan kepada pegawai berprestasi, Fra
HUKUM DAN KRIMINAL