BREAKING NEWS
Sabtu, 14 Februari 2026

Kosmologi Batak Toba: Alam, Leluhur, dan Tatanan Hidup yang Terhubung

Nurul - Selasa, 03 Februari 2026 21:24 WIB
Kosmologi Batak Toba: Alam, Leluhur, dan Tatanan Hidup yang Terhubung
Tiga prajurit Batak dengan tombak dan pedang di depan sebuah bangunan kayu. Seekor anjing berbaring di antara dua balok di sebelah kiri. (foto: Wikipedia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Bagi masyarakat Batak Toba, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian integral dari tatanan kosmis yang menghubungkan manusia, leluhur, dan kekuatan adikodrati.

Cara pandang ini, dikenal sebagai kosmologi Batak, membentuk adat, ritual, dan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sistem kosmologi Batak Toba, alam semesta dibagi menjadi tiga lapisan utama: Banua Ginjang (dunia atas), Banua Tonga (dunia tengah), dan Banua Toru (dunia bawah).

Baca Juga:

Pembagian ini bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi dasar masyarakat Batak memahami kehidupan dan kematian.

Antropolog J.C. Vergouwen menjelaskan bahwa struktur kosmologi ini tercermin dalam tata sosial dan praktik ritual masyarakat Batak Toba.

"Pandangan kosmis orang Batak memengaruhi cara mereka mengatur kehidupan sosial, hubungan dengan alam, dan praktik ritual," tulis Vergouwen dalam kajiannya.

Alam Sebagai Penanda
Fenomena alam seperti pergerakan matahari, bulan, dan bintang dijadikan penanda waktu serta pertanda penting.

Pengetahuan ini tersimpan dalam pustaha laklak, naskah tradisional Batak yang ditulis di atas kulit kayu.

Filolog Uli Kozok mencatat dalam Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak bahwa pustaha tidak hanya berisi mantra atau pengobatan, tetapi juga sistem pengetahuan kosmologis yang digunakan untuk menentukan waktu ritual, pertanian, hingga perjalanan jauh.

Peran Datu dan Parbaringin
Penafsiran tanda-tanda alam tidak dilakukan sembarang orang.

Datu atau parbaringin—tokoh adat yang menguasai pengetahuan kosmologi dan penanggalan—memegang otoritas moral dalam pengambilan keputusan.

Vergouwen menekankan, "Pengetahuan tentang alam dan kosmos memberi legitimasi adat bagi para datu dalam membimbing masyarakat."

Kosmologi Tercermin dalam Tata Ruang
Kosmologi Batak juga terlihat dalam tata ruang huta atau kampung.

Posisi rumah adat, lumbung, dan area ritual diatur menurut pandangan kosmis, bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya.

Tata ruang ini bukan sekadar praktis, tetapi simbolis, mencerminkan hubungan harmonis antara dunia manusia dan dunia leluhur.

Jejak yang Masih Bertahan
Meski masuknya agama dan sistem pengetahuan modern perlahan menggeser praktik kosmologi tradisional, jejaknya masih tampak dalam ritual adat, simbol, dan penghormatan terhadap alam.

Kosmologi Batak Toba menunjukkan bahwa jauh sebelum ilmu pengetahuan modern berkembang, masyarakat lokal telah memiliki sistem pemikiran kompleks untuk memahami alam semesta dan menata kehidupan sosial.*


(d/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Operasi Keselamatan Toba 2026 Dimulai, Wakil Bupati Labusel Tekankan Pendekatan Humanis dan Sinergi Lintas Sektor
Kejati Sumut Tetapkan GM PT Yodya Karya Wilayah IV Medan Tersangka Korupsi Proyek Waterfront City Danau Toba
Tapteng Gelar Operasi Keselamatan Toba 2026 Jelang Idul Fitri, Libatkan 1.923 Personel
Rumah Tahfiz Qur’an H Sugiat Santoso Resmi Dibangun di Simalungun, Wujud Investasi Dunia dan Akhirat bagi Generasi Penghafal Al-Qur’an
Sengketa Lahan Adat Tapsel, Parsadaan Siregar Siagian Gugat PTAR dan Bupati, Hak Warga Masih Menggantung
Arak Bali Rayakan Hari ke-6: Dari Minuman Tradisional ke Simbol Kebangkitan Ekonomi Berbasis Budaya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru