BREAKING NEWS
Sabtu, 28 Februari 2026

Menambahkan Garam ke Makanan Tanda Ketidaksopanan?!

BITVonline.com - Jumat, 12 Juli 2024 05:05 WIB
Menambahkan Garam ke Makanan Tanda Ketidaksopanan?!
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BITVONLINE.COM –Menambahkan garam ke makanan seringkali dianggap sebagai tindakan sepele yang dilakukan untuk menyesuaikan rasa makanan sesuai selera pribadi. Namun, siapa sangka bahwa hal ini ternyata memiliki etiket tersendiri yang dapat mencerminkan kesopanan atau bahkan ketidaksopanan, tergantung pada konteks dan budaya.

Mengutip Huff Post (3/7/2024), pakar etiket Nick Leighton menyebutkan bahwa menambahkan garam ke makanan yang disajikan oleh tuan rumah bisa dianggap tidak sopan. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut dapat diartikan sebagai bentuk keraguan terhadap kemampuan memasak sang tuan rumah.

“Tuan rumah yang sopan tidak akan pernah mengatakan apa pun tentang bumbu yang Anda berikan pada makanan mereka, tetapi mereka hampir pasti akan memperhatikannya dan mencatatnya,” ujar Leighton.

Makna Tersembunyi di Balik Garam

Menambahkan garam ke makanan bukan hanya soal preferensi rasa, tetapi juga dapat menyinggung perasaan sang juru masak. Seorang chef yang tersinggung bisa saja menafsirkan bahwa tindakan menambah garam adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap keterampilan mereka di dapur. Beberapa bahkan mungkin melihatnya sebagai indikasi karakter si penabur garam.

Sejak dahulu, menabur garam ke makanan telah memiliki makna filosofis tertentu. Di Amerika Serikat, ada cerita terkenal yang sering disebut “tes Henry Ford” atau “tes Thomas Edison.” Kisah ini mengisahkan seorang petinggi perusahaan yang kerap mengajak kandidat pelamar kerja untuk makan malam. Jika pelamar tersebut memberi garam ke makanan sebelum mencicipinya, mereka dianggap gagal mendapat pekerjaan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa mereka berpikiran sempit dan membuat asumsi sebelum mengambil tindakan.

Budaya Berbeda, Norma Berbeda

Lantas, apakah menambahkan garam ke makanan benar-benar tidak sesuai dengan norma kesopanan? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu. Dalam konteks budaya, salting atau menaburkan garam ke makanan bisa menjadi topik yang rumit dan sensitif.

Pakar etiket Sara Jane Ho mengutip film terkenal tahun 1993, “The Joy Luck Club,” sebagai contoh mengapa pertanyaan etiket ini dapat bergantung pada konteks budaya. Dalam film tersebut, Waverly, yang merupakan orang keturunan China, mengajak pacarnya, Rich, untuk makan malam bersama keluarganya. Sang ibu, Lindo, menyuguhkan makanan dan biasanya akan menghina hidangan yang paling ia banggakan dengan menyebutnya “tidak cukup asin.” Rich yang tidak mengetahui bahwa ungkapan tersebut hanya kiasan, justru menambahkan kecap asin ke makanan, membuat keluarga Waverly terkejut.

Ho menyimpulkan bahwa perbedaan budaya di China dan Amerika Serikat ini bisa menjadi contoh bagaimana kita menyikapi perbedaan dengan bijak. Dalam budaya China, banyak komunikasi dilakukan melalui konteks dan membaca yang tersirat, sedangkan di Amerika Serikat, komunikasi lebih langsung sesuai dengan yang dikatakan.

Etiket yang Tepat: Cicipi Dulu, Baru Tambah Garam

Pakar etiket lainnya, Nasim Lahbichi, juru masak dan kreator konten asal New York, menekankan bahwa seberapa banyak garam yang diinginkan seseorang sangat bergantung pada makanan yang dinikmati selama tumbuh dewasa atau sesuai usia sekarang karena indera perasa berubah. Selera membumbui makanan sangat bersifat pribadi. Oleh karena itu, mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum menambahkan garam adalah aturan umum yang sebaiknya diikuti.

Leighton menambahkan bahwa tidak semua makanan dapat ditambahkan garam sesuai selera. Jika makanan yang disajikan adalah untuk dinikmati bersama, penting untuk bertanya terlebih dahulu kepada orang lain yang juga akan memakannya.

Ho juga mengingatkan agar berhati-hati saat menjawab pertanyaan tuan rumah tentang bumbu yang diinginkan. Jawaban paling aman adalah menggunakan preferensi pribadi dengan mengatakan bahwa Anda memang suka makanan yang lebih banyak garamnya. Dengan demikian, Anda menekankan pada preferensi pribadi dan bukan mengkritik masakan mereka.

Kesimpulan: Bijak dalam Menghadapi Perbedaan

Persoalan etiket dalam menambahkan garam ke makanan ternyata lebih kompleks dari yang terlihat. Selain memperhatikan kesopanan, kita juga perlu memahami konteks budaya dan preferensi pribadi. Menjaga kesopanan dengan mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum menambahkan garam, serta menghormati usaha dan keterampilan tuan rumah dalam memasak, adalah langkah bijak yang dapat diambil.

Dalam dunia yang semakin terhubung, memahami dan menghargai perbedaan budaya menjadi kunci untuk berinteraksi dengan baik. Jadi, saat Anda diundang makan malam, ingatlah untuk selalu mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum menambahkan garam, dan hormati tuan rumah dengan tidak memberikan kritik yang tidak perlu.

(N/014)

0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru