Dari keterbatasan dunia kolonial, ia menyalakan cahaya melalui kata-kata, menjadi salah satu perintis persMelayu yang menentang pembungkaman suara pribumi.
Pendidikan di Kweekschool Padangsidimpuan dan bimbingan C. A. van Ophuijsen membentuk dasar intelektualnya.
Karier jurnalistiknya dimulai pada 1887 sebagai redaktur Soeloeh Pengadjar, jurnal pendidikan berbahasa Belanda.
Namun titik balik terjadi setelah menunaikan ibadah haji pada 1892 dan mengganti namanya menjadi Haji Muhammad Saleh.
Padangsidimpuan menjadi pusat perjuangannya: mendirikan sekolah swasta dan memimpin Pertja Barat, surat kabar Melayu pertama yang dimiliki pribumi.
Di bawah kepemimpinannya, Pertja Barat kritis, mengangkat isu pendidikan, peran perempuan, adat, serta menyoroti kebijakan kolonial dan elite priyayi.
Konflik dengan pihak kolonial membuatnya beberapa kali berhadapan dengan hukum.
Ketika diusir dari Padang, ia melanjutkan perjuangan di Kutaraja (Banda Aceh) dengan mendirikan Pemberita Atjeh pada 1906, serta menjangkau Medan melalui Pewarta Deli pada 1910, surat kabar Melayu pertama di Medan yang dimiliki dan dipimpin pribumi.
Media-media yang dipimpinnya menjadi sarana perjuangan kolektif, sekaligus merawat identitas dan sejarah Sumatra, termasuk lewat buku "Riwayat Poelaoe Soematra" (1903).
Hidup Dja Endar Moeda tidak lepas dari tekanan, pengusiran, dan penahanan. Namun pengorbanannya membentuk fondasi pers bumiputra.
Ia wafat pada 1926 di Kutaraja, jauh dari tanah kelahiran, tetapi gagasannya tetap hidup dalam tradisi jurnalistik Indonesia.