Kisah Nabi Ismail AS bermula ketika istri pertama Nabi Ibrahim AS, Siti Sarah, belum dikaruniai anak.
Atas permintaan Siti Sarah, Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar, yang kemudian melahirkan Nabi Ismail.
Meski membawa kebahagiaan, kelahiran Nabi Ismail juga menjadi ujian bagi Nabi Ibrahim dan Siti Hajar.
Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan Siti Hajar dan bayi Ismail di lembah yang tandus, yaitu Makkah yang belum berpenghuni.
Dengan iman yang teguh, Siti Hajar berusaha mencari air untuk anaknya dengan berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah.
Allah SWT menjawab doanya dengan memunculkan air zamzam di dekat kaki Nabi Ismail, yang hingga kini menjadi sumber kehidupan bagi jutaan umat Islam.
Perintah Allah untuk Menyembelih Nabi Ismail
Peristiwa yang sangat menguji kesetiaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terjadi ketika Nabi Ibrahim AS menerima wahyu dari Allah untuk menyembelih putranya.
Sebagai seorang hamba yang taat, Nabi Ibrahim memberitahukan perintah ini kepada Nabi Ismail.
Dengan penuh kepatuhan, Nabi Ismail menerima keputusan tersebut, menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa.
Ketika saatnya tiba, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai tanda ujian ketakwaan mereka.
Pembangunan Ka'bah
Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kembali ke Makkah atas perintah Allah.
Di sana, mereka membangun Ka'bah, rumah ibadah pertama bagi umat manusia.
Proses pembangunan Ka'bah ini pun diwarnai dengan pengorbanan dan kerjasama yang luar biasa antara ayah dan anak.
Doa mereka agar banyak orang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dikabulkan oleh Allah SWT.
Nabi Ismail AS tidak hanya dikenal sebagai putra Nabi Ibrahim AS, tetapi juga sebagai seorang nabi yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam.
Beliau membimbing suku Amalika di Yaman dan menghabiskan lebih dari lima puluh tahun masa kenabiannya untuk menyampaikan firman Allah SWT, mengajak kaum musyrik memeluk agama Islam dan mempercayai Tuhan yang Maha Esa.