Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Islam mengajarkan bahwa mendidik anak merupakan amanah besar yang harus dilakukan dengan kasih sayang, keteladanan, dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur'an serta hadits.
Salah satu panduan yang hingga kini masih banyak dijadikan rujukan adalah metode pendidikan anak yang disampaikan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib RA, melalui konsep rumus 7x3.
Konsep tersebut membagi tahapan pendidikan anak menjadi tiga fase berdasarkan usia, yakni 0–7 tahun, 7–14 tahun, dan 14–21 tahun.
Baca Juga:
Pada setiap tahap, orang tua dianjurkan menggunakan pendekatan yang berbeda sesuai perkembangan fisik, mental, dan emosional anak.
Usia 0–7 Tahun, Anak Diperlakukan Layaknya Raja
Pada tujuh tahun pertama kehidupan, anak berada dalam masa belajar mengenal lingkungan dan membangun karakter dasar.
Pada fase ini, Ali bin Abi Thalib RA menganjurkan agar anak diperlakukan layaknya seorang raja.
Artinya, orang tua dianjurkan mengasuh anak dengan penuh kasih sayang, kelembutan, perhatian, dan kesabaran.
Namun, perlakuan tersebut bukan berarti memanjakan anak tanpa batas.
Orang tua tetap perlu memberikan arahan dan batasan dengan cara yang lembut.
Di usia ini, anak juga dikenal sebagai peniru yang sangat baik.
Karena itu, keteladanan orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk sikap dan perilaku anak.
Nilai-nilai tauhid, akhlak, serta kecintaan kepada Rasulullah SAW juga mulai dikenalkan sebagai fondasi kehidupan mereka.
Usia 7–14 Tahun, Anak Diperlakukan Layaknya Tawanan
Memasuki usia sekolah hingga awal masa remaja, pendekatan pendidikan mulai berubah.
Ali bin Abi Thalib RA mengibaratkan anak pada fase ini layaknya seorang tawanan.
Makna dari perumpamaan tersebut adalah pentingnya menanamkan disiplin, tanggung jawab, serta kepatuhan terhadap aturan.
Anak mulai diajarkan mengenai kewajiban dan larangan, termasuk menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran.
Pada fase ini, orang tua juga diharapkan mampu memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara yang baik dan yang buruk, manfaat dan mudarat, serta mendampingi anak menghadapi perubahan menuju masa pubertas.
Pendekatan yang diterapkan tetap harus disertai kasih sayang, sehingga disiplin tidak berubah menjadi kekerasan.
Usia 14–21 Tahun, Anak Diperlakukan Layaknya Sahabat
Ketika anak memasuki usia remaja hingga dewasa muda, Ali bin Abi Thalib RA menganjurkan agar orang tua mulai memosisikan diri sebagai sahabat.
Pada tahap ini, komunikasi menjadi faktor yang sangat penting.
Orang tua dianjurkan lebih banyak berdiskusi, mendengarkan pendapat anak, serta memberikan kepercayaan agar mereka belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Meski demikian, kebebasan yang diberikan tetap berada dalam pengawasan sehingga anak tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merugikan dirinya.
Dengan hubungan yang lebih terbuka, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kedekatan emosional dengan orang tua.
Didik Anak Sesuai Zamannya
Selain konsep 7x3, Ali bin Abi Thalib RA juga menyampaikan pesan yang hingga kini masih relevan bagi para orang tua, terutama di era perkembangan teknologi dan digital.
"Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup di zaman mereka, bukan di zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian."
Pesan tersebut mengingatkan bahwa pola asuh tidak boleh berhenti pada pengalaman masa lalu.
Orang tua perlu memahami perubahan zaman, perkembangan teknologi, cara berpikir generasi muda, serta tantangan yang mereka hadapi agar pendidikan yang diberikan tetap relevan.
Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa tujuan utama mendidik anak bukan hanya membentuk pribadi yang cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.* (d/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.