Purbaya Tegaskan Pemerintah Patuh Putusan MK, Anggaran MBG Berubah Mulai APBN 2028
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah akan mematuhi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan pemis
NASIONAL
ACEH BESAR - Lima perkara disebut menjadi penyebab utama mengapa amal ibadah seorang hamba tidak sampai membawanya pada derajat kesalehan sejati di hadapan Allah SWT. Hal ini disampaikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW yang dikenal luas akan kesalehan dan keluasan ilmunya.
Pernyataan tersebut dikutip dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Banten. Dalam kitab itu disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib berkata, "Kalau bukan karena lima perkara, niscaya semua manusia menjadi saleh, yaitu: (1) merasa cukup (senang) dengan kebodohan, (2) tamak dengan (kesenangan) dunia, (3) kikir dengan kelebihan harta, (4) riya dalam beramal, dan (5) bangga akan diri sendiri."
Pimpinan Dayah Raudhatul Arifin Tanjung Deah Darussalam Aceh Besar, Tgk. Safaini S.PdI, MA, menyampaikan hal ini dalam khutbah Jumat di Masjid Jamik Buengcala, Kecamatan Kuta Baro, Jumat (31/7/2026) yang bertepatan dengan 16 Safar 1448 Hijriah.Baca Juga:
Beribadah Tanpa Ilmu
Menurut Tgk. Safaini, sebab pertama adalah beribadah tanpa ilmu. Menuntut ilmu agama merupakan kewajiban setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, karena ibadah memiliki syarat sah dan rukun yang harus dipahami. Jika seseorang beribadah tanpa ilmu, ibadahnya berpotensi tertolak.
"Dan setiap orang beramal tanpa ilmu maka amalnya tertolak lagi tidak diterima," ujarnya mengutip pernyataan Ibnu Ruslan dalam Matn al-Zubad.
Tamak akan Dunia
Sebab kedua adalah sifat tamak atau serakah terhadap harta dunia. Orang yang tamak senantiasa merasa kurang atas rezeki yang telah diberikan Allah, sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengejar materi ketimbang beribadah.
Tgk. Safaini mengutip hadis riwayat Imam al-Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dua serigala lapar yang dilepas di sekawanan kambing tidaklah lebih merusak daripada ambisi seorang yang tamak untuk memperoleh harta dan kemuliaan yang merusak agamanya."
Kikir terhadap Kelebihan Harta
Sebab ketiga adalah sifat kikir atau al-syuhhu, yakni kekikiran yang disertai ambisi mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Sifat ini erat kaitannya dengan ketamakan.
"Tak jarang ada orang yang tidak hanya kikir terhadap orang lain, tetapi juga kikir terhadap keluarganya bahkan dirinya sendiri. Padahal, kelebihan harta menjadikan seseorang memiliki beban yang lebih berat di akhirat kelak, karena akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dimilikinya," ungkap dosen Universitas Al-Washliyah Banda Aceh ini.* (dh)
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah akan mematuhi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan pemis
NASIONAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan dirinya telah menerima tawaran untuk menjadi brand ambassador atau duta merek industri k
NASIONAL
JAKARTA Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono merespons putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menetapkan anggaran Program Makan Ber
NASIONAL
MEDAN Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Utara (Sumut) mengintensifkan pembinaan atlet melalui Program Pembinaan Intensi
OLAHRAGA
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumut terus mendorong penguatan in
EKONOMI
BANDA ACEH Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., menerima kunjungan silaturahmi Regional CEO PT Bank Syariah Indones
NASIONAL
SUMATERA UTARA Fenomena rumah berukuran besar dan terlihat cukup mewah yang ditempeli stiker bertuliskan Keluarga Miskin menjadi perha
NASIONAL
TAPAKTUAN Kapolres Aceh Selatan AKBP T. Ricki Fadlianshah memusnahkan barang bukti narkotika jenis ganja sebanyak 110 batang hasil pengung
HUKUM DAN KRIMINAL
BANDA ACEH Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., menerima kunjungan silaturahmi Danlanal Sabang Kolonel Laut (P) Sad
NASIONAL
BANDA ACEH Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., menerima kunjungan silaturahmi dari jajaran Majelis Adat Aceh (MAA)
PERISTIWA