BREAKING NEWS
Minggu, 18 Oktober 2026

Meneladani Risalah Rasulullah, Umat Diajak Bangun Peradaban Berilmu dan Berakhlak

T.Jamaluddin - Minggu, 18 Oktober 2026 07:55 WIB
Meneladani Risalah Rasulullah, Umat Diajak Bangun Peradaban Berilmu dan Berakhlak
Ustaz H. Abrar Zym, S.Ag., M.H. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH – Risalah Nabi Muhammad SAW tidak hanya membawa ajaran Islam, tetapi juga mengemban misi membebaskan manusia dari kesyirikan, membangun tradisi keilmuan, menyucikan jiwa, dan membentuk akhlak mulia.

Misi tersebut menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan umat yang beriman, berilmu, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Ustaz H. Abrar Zym, S.Ag., M.H., dalam Pengajian Rutin Ahad Subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, Ahad, 18 Oktober 2026.

Baca Juga:

Dalam kajian bertajuk "Risalah Nabi Muhammad SAW: Membangun Manusia Berilmu dan Berakhlak", ia mengajak umat Islam memahami kembali tujuan utama diutusnya Rasulullah melalui tiga landasan dalam Al-Qur'an.

Menurut Abrar, risalah Nabi Muhammad SAW menempatkan tauhid, ilmu pengetahuan, penyucian jiwa, dan amal saleh sebagai bagian yang saling berkaitan.

Keberagamaan tidak cukup ditunjukkan melalui simbol dan ucapan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Tauhid Harus Dibuktikan dengan Amal Saleh

Landasan pertama yang dibahas adalah Surah Al-Kahfi ayat 110.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk menyampaikan petunjuk kepada umat manusia.

Abrar menjelaskan, ayat itu mengandung tiga pesan utama.

Pertama, Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah yang membawa petunjuk, bukan sosok yang harus dipertuhankan.

Kedua, tauhid menjadi fondasi kehidupan seorang muslim.

Keyakinan kepada Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa seharusnya membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk, termasuk ketika berhadapan dengan harta, jabatan, popularitas, dan kekuasaan.

Ketiga, keimanan harus diwujudkan melalui amal saleh.

Nilai tauhid tidak boleh berhenti pada ibadah di masjid atau ucapan lisan, tetapi perlu hadir dalam kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kepedulian sosial, dan pelaksanaan amanah.

Karena itu, menurut Abrar, seseorang yang menjalankan ajaran agama perlu menunjukkan dampak nyata dari keimanannya melalui perilaku yang baik dan kepedulian terhadap orang lain.

Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk, sedangkan amal saleh menjadi bukti bahwa keyakinan tersebut benar-benar hidup dalam dirinya.

Pendidikan Islam Harus Menyatukan Ilmu dan Kebersihan Jiwa

Landasan kedua merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 151.

Ayat ini menjelaskan tugas Rasulullah SAW dalam membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia, serta mengajarkan Kitab dan hikmah.

Abrar menilai, ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam tidak semata-mata mengejar kecerdasan intelektual.

Pendidikan juga harus membentuk karakter, membersihkan hati, dan menumbuhkan kebijaksanaan.

Ia menjelaskan, manusia perlu memahami petunjuk Allah agar mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.

Namun, pengetahuan saja tidak cukup apabila seseorang masih dikuasai kesombongan, kedengkian, ketamakan, dan keinginan merendahkan orang lain.

Selain itu, ilmu dan hikmah harus berjalan beriringan.

Al-Qur'an memberikan pedoman hidup, sedangkan hikmah membantu manusia memahami dan menerapkan pedoman tersebut secara tepat.

Dalam pandangan ini, orang berilmu bukan hanya mereka yang memiliki gelar akademik tinggi, banyak membaca buku, atau menguasai teknologi.

Orang berilmu juga harus mampu menggunakan pengetahuannya untuk menemukan kebenaran, menyelesaikan persoalan, memperbaiki kehidupan, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Ilmu yang tidak membimbing manusia kepada kebaikan dapat kehilangan arah

. Sebaliknya, akhlak yang tidak ditopang pengetahuan dapat kehilangan kebijaksanaan.

Karena itu, pendidikan yang meneladani risalah Nabi Muhammad SAW perlu menyatukan kecerdasan, kebersihan jiwa, dan kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana.

Risalah Nabi Menjadi Landasan Membangun Peradaban

Landasan ketiga adalah Surah Al-Jumu'ah ayat 2.

Ayat tersebut menggambarkan tugas Rasulullah SAW dalam membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan manusia, serta mengajarkan Kitab dan hikmah.

Menurut Abrar, risalah Nabi Muhammad SAW membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

Melalui wahyu, pendidikan, dan keteladanan, Rasulullah membimbing umat menuju kehidupan yang berlandaskan tauhid, ilmu, dan akhlak.

Dari pesan tersebut, terdapat tiga pelajaran penting. Pertama, pendidikan merupakan jalan untuk mengubah manusia dan masyarakat.

Perubahan yang mendalam tidak hanya membutuhkan perintah dan larangan, tetapi juga pemahaman, bimbingan, keteladanan, dan kesediaan untuk memperbaiki diri.

Kedua, ilmu harus melahirkan peradaban yang berakhlak.

Kemajuan masyarakat tidak cukup diukur dari bangunan megah, teknologi canggih, atau banyaknya lembaga pendidikan.

Kemajuan juga harus terlihat dari kejujuran pemimpin, keadilan hukum, kepedulian kepada kelompok lemah, dan tanggung jawab warga.

Ketiga, perubahan membutuhkan keteladanan.

Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan ajaran melalui perkataan, tetapi juga memperlihatkan penerapannya dalam kehidupan.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan kesiapan memasuki dunia kerja.

Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang jujur, berintegritas, peduli, dan berani membela kebenaran.

Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, masjid, dan lembaga masyarakat memiliki peran penting dalam membangun generasi yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus kemuliaan akhlak.

Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Pembentukan Karakter

Dalam bagian akhir kajiannya, Abrar menghubungkan ketiga landasan Al-Qur'an tersebut sebagai satu kesatuan misi risalah Nabi Muhammad SAW.

Surah Al-Kahfi ayat 110 menegaskan pentingnya tauhid dan amal saleh.

Surah Al-Baqarah ayat 151 menekankan pendidikan yang menyeluruh melalui pembacaan wahyu, penyucian jiwa, serta pengajaran ilmu dan hikmah.

Sementara itu, Surah Al-Jumu'ah ayat 2 menggambarkan misi perubahan manusia dan masyarakat menuju kehidupan yang lebih berilmu dan berakhlak.

Ketiganya saling melengkapi. Tauhid memberikan arah kehidupan, ilmu memberikan pemahaman, penyucian jiwa membentuk karakter, dan amal saleh mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata.

Karena itu, kebangkitan umat Islam tidak cukup diukur dari jumlah sekolah, perguruan tinggi, masjid, atau lembaga yang dibangun.

Hal yang tidak kalah penting ialah sejauh mana lembaga-lembaga tersebut melahirkan manusia yang semakin berilmu, jujur, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Umat membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas menjawab soal, tetapi juga jujur ketika menghadapi godaan.

Bukan hanya pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi berani menegakkannya.

Bukan hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memikirkan kemaslahatan orang lain.

Pesan utama pengajian tersebut adalah pentingnya menjadikan tauhid sebagai fondasi, ilmu sebagai penerang, akhlak sebagai karakter, dan amal saleh sebagai bukti pengabdian kepada Allah SWT.

Melalui pengamalan nilai-nilai itu, umat Islam diharapkan mampu meneruskan risalah Nabi Muhammad SAW dengan membangun manusia yang berilmu, berakhlak mulia, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Tiga Tahun Whoosh Beroperasi, Wamenaker Dorong SDM Indonesia Kuasai Teknologi Kereta Cepat
Tesla Roadster Diklaim Bisa Melompat dan Berputar, Ini Teknologi di Baliknya
Pesan Khutbah Jumat Ustaz Nurkhalis Muchtar: Pentingnya Meluruskan dan Memperbarui Niat
Kapolda Aceh Ruddi Setiawan Ingatkan Mahasiswa: Mudah Viral Bukan Berarti Benar
Laporan Dugaan Perampasan Aset STAI Al-Hikmah Medan Belum Tuntas, Yaspetia Minta PWNU Turun Tangan
Mengenal Rukun Iman dan Rukun Islam: Pengertian, Perbedaan, serta Urutan Lengkapnya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Membaca Prabowo Menyerap Kekuasaan

Membaca Prabowo Menyerap Kekuasaan

OlehAndang SubahariantoMENJELANG dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto (20 Oktober 2026), ada yang menarik dibaca dari sudut bud

OPINI