BREAKING NEWS
Kamis, 02 April 2026

Menlu RI Sugiono: Kenaikan Tarif Impor AS Adalah "Wake Up Call" Bagi Indonesia

Raman Krisna - Rabu, 09 Juli 2025 21:59 WIB
Menlu RI Sugiono: Kenaikan Tarif Impor AS Adalah "Wake Up Call" Bagi Indonesia
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Sugiono di acara ASEAN Foreign Ministerial Meetings (AMM) di Kuala Lumpur, pada Rabu (9/7/2025). (foto ig sugiono_56)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

KUALA LUMPUR — Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Sugiono, menyampaikan pandangannya terkait kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang memutuskan untuk menaikkan tarif impor terhadap negara-negara anggota BRICS, termasuk Indonesia.

Tarif terhadap Indonesia dipatok sebesar 32%, yang menurut Sugiono, harus dijadikan sebagai sebuah peringatan penting atau wake up call bagi Indonesia.

Sugiono menyampaikan pernyataan tersebut di sela-sela acara ASEAN Foreign Ministerial Meetings (AMM) di Kuala Lumpur, pada Rabu (9/7/2025).

Menurutnya, kebijakan tersebut harus disikapi dengan bijak karena menunjukkan adanya tantangan serius yang harus dihadapi Indonesia dalam memperkuat ketahanan ekonomi domestiknya.

"Kita melihatnya sebagai, ya ini merupakan sesuatu yang harus kita sadari bahwa it's a wake up call juga buat kita," ujar Sugiono.

Menlu RI menganggap tarif impor yang dinaikkan AS merupakan indikasi penting bahwa Indonesia perlu lebih serius dalam mengelola ekonomi domestik, serta memastikan kemandirian dalam berbagai sektor, termasuk pangan dan energi.

Sugiono mengungkit pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menggarisbawahi pentingnya Indonesia memperkuat perekonomian domestik.

Ia juga menekankan bahwa swasembada pangan dan energi adalah kebutuhan dasar yang harus diwujudkan oleh Indonesia untuk memastikan kedaulatan ekonomi negara.

"Makanya, saya kira apa yang dilakukan dan dicanangkan oleh Pak Presiden Prabowo sudah on the right track. Kita ingin bisa berswasembada memenuhi kebutuhan pangan kita, energi kita dan ini merupakan sesuatu yang basic yang harus dipenuhi," ujar Sugiono, menekankan bahwa kemandirian ekonomi adalah langkah fundamental bagi Indonesia.

Sugiono juga menyebutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berorientasi pada investasi dalam sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Menurutnya, program tersebut adalah langkah penting untuk membangun kekuatan ekonomi yang mandiri, tidak tergantung pada negara lain.

"Jadi, kemudian bagaimana kita berinvestasi untuk human capital kita melalui Makanan Bergizi Gratis sehingga kita bisa benar-benar membangun suatu kekuatan ekonomi yang tidak bergantung pada siapa pun dan tetap bisa menjalankan hubungan luar negeri kita dengan baik dengan siapa pun," lanjutnya.

Terkait kebijakan tarif tambahan tersebut, Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap kelompok negara-negara BRICS yang dianggapnya berusaha merugikan AS.

Trump secara tegas menyatakan bahwa BRICS dibentuk untuk meruntuhkan dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.

"BRICS dibentuk untuk mendegradasi dolar kita dan mencopotnya sebagai standar, dan tidak apa-apa jika mereka ingin memainkan permainan itu, tetapi saya juga dapat memainkan permainan itu. Kita menghilangkan peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia, ini seperti kalah dalam perang, perang dunia yang besar. Kita tidak akan menjadi negara yang sama lagi," ujar Trump dalam pernyataannya, yang dikutip oleh Reuters, Rabu (9/7/2025).

Sikap Indonesia terhadap kebijakan tarif impor yang dikenakan AS masih dalam tahap evaluasi, namun Sugiono menegaskan pentingnya bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekonomi domestik serta memperkuat sektor-sektor kritis.

Selain itu, Indonesia akan terus berusaha menjaga hubungan baik dengan berbagai negara dan berkontribusi aktif dalam berbagai forum multilateral, termasuk di ASEAN dan BRICS.

Kenaikan tarif impor ini menjadi tantangan baru bagi Indonesia untuk memperkuat perekonomian domestik dan memastikan bahwa negara tetap bisa berperan aktif di kancah internasional tanpa bergantung pada kebijakan negara lain.*

(d/a008)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru