JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2025 masih menunjukkan tekanan, tercatat mengalami koreksi tipis sebesar 0,46% year-to-date (YTD).
Namun demikian, jika dibandingkan dengan indeks-indeks saham lainnya di kawasan, IHSG tetap mencatatkan kinerja yang relatif kuat.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menuturkan bahwa IHSG saat ini menempati posisi ketiga sebagai indeks terkuat di Asia Tenggara, dan berada di peringkat ke-8 di kawasan Asia Pasifik.
"Jika melihat secara regional, IHSG menjadi salah satu yang paling menarik. Hal ini tidak terlepas dari kondisi makroekonomi dan pasar modal domestik yang relatif kondusif," ujar Nafan dalam keterangannya, Jumat (11/7/2025).
Nafan menjelaskan bahwa saham-saham sektor perbankan mulai menunjukkan penguatan yang signifikan, sehingga turut menjadi pendorong positif bagi pergerakan IHSG dalam beberapa waktu terakhir.
Selain itu, laporan keuangan sejumlah emiten di pasar modal juga menunjukkan tren pemulihan, yang dinilai dapat menjadi katalis lanjutan dalam menjaga momentum IHSG di semester kedua 2025.
Tak hanya itu, kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) juga memberikan harapan positif.
Nafan menilai BI masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam waktu dekat, seiring dengan komitmen otoritas moneter yang tetap menjaga arah kebijakan pro-growth.
"Jika suku bunga acuan turun, maka efek pengurangan biaya pinjaman (borrowing cost) akan sangat terasa. Ini berpotensi meningkatkan konsumsi domestik, yang pada gilirannya dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional," ungkapnya.
Berdasarkan data YTD, pergerakan IHSG hanya kalah dari dua indeks utama di kawasan:
- Vietnam VN-Index: Menguat 14,12%
- Singapura STI (Straits Times Index): Menguat 7,93%