JAKARTA – Krisis anggaran yang melanda Pemerintah Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran global.
Gagalnya Kongres AS dalam menyepakati rancangan anggaran negara telah menyebabkan pemerintahan federal mengalami shutdown, situasi di mana sebagian besar layanan publik terhenti, dan ratusan ribu pegawai negeri dirumahkan tanpa gaji.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan domestik, melainkan memiliki dampak luas secara global, termasuk terhadap perekonomian Indonesia.
Apa Itu Shutdown Pemerintah? Mengutip laporan ABC News, shutdown terjadi ketika Kongres AS tidak mencapai kesepakatan soal anggaran federal hingga batas waktu yang ditentukan.
Akibatnya, pemerintah kehabisan dana untuk menjalankan berbagai layanan publik.
Hanya sektor-sektor esensial seperti keamanan nasional, pengendalian lalu lintas udara, hingga layanan kesehatan darurat yang tetap beroperasi.
Shutdown terbaru ini dipicu oleh kegagalan dua partai besar, Demokrat dan Republik, dalam memperoleh persetujuan di Senat atas rancangan anggaran masing-masing.
Pemerintah federal resmi menghentikan sebagian besar aktivitasnya sejak Rabu, 3 Oktober 2025 pukul 00.01 waktu setempat.
Ini bukan kejadian pertama. Sejak 1977, AS telah mengalami lebih dari 20 kali shutdown, termasuk yang terpanjang pada 2018 selama 35 hari, dengan kerugian ekonomi mencapai USD 3 miliar.
Layanan Publik Terhenti, Penelitian dan Pariwisata Lumpuh Dampak shutdown sangat dirasakan masyarakat.
Laman BBC menyebutkan beberapa layanan publik penting dihentikan, mulai dari bantuan makanan, sekolah pra-TK yang didanai negara, hingga penutupan museum nasional seperti Smithsonian.
Lembaga-lembaga vital seperti CDC dan NIH harus menangguhkan sebagian besar kegiatan penelitian mereka.