JAKARTA — Produksi beras nasional pada 2025 mengalami lonjakan signifikan, memengaruhi pola impor Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, impor beras kini tidak lagi menyasar beras medium untuk konsumsi umum, melainkan fokus pada kebutuhan industri dan jenis beras khusus yang tidak diproduksi dalam negeri.
Berdasarkan data BPS, potensi produksi beras nasional sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 34,79 juta ton, meningkat 4,17 juta ton atau 13,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Lonjakan ini membuat pasokan beras dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga impor beras medium dihentikan.
"Kami menghentikan impor beras medium sejak awal 2025. Hanya impor Januari sebesar 69,75 ribu ton yang tercatat merupakan sisa kuota tahun 2024," ujar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam keterangan resmi, Sabtu (6/12/2025).
Meski begitu, impor tetap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri dan beras dengan karakteristik khusus.
BPS mencatat, impor beras pecah bukan untuk makanan ternak (HS10064090) mencapai 286,91 ribu ton pada periode Januari–Oktober 2025, menurun 26,97 persen dari tahun sebelumnya.
Jenis beras ini biasa digunakan untuk memproduksi bihun, tepung beras, dan bubur.
Selain itu, impor juga menyasar beras khusus seperti basmati dan hom mali, masing-masing sebesar 3,15 ribu ton dan 600 ton, yang biasanya digunakan sektor hotel, restoran, dan katering.
Kedua jenis beras ini memang tidak diproduksi secara domestik.
Dengan perubahan ini, ketergantungan Indonesia pada impor beras medium berkurang, sementara impor tetap diarahkan untuk kebutuhan industri dan segmen tertentu, memastikan ketersediaan pangan sekaligus mendukung produksi lokal.*
(k/dh)
Editor
: Adelia Syafitri
Kebijakan Impor Beras 2025: Hanya untuk Industri dan Jenis Khusus