JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat pagi (13/2/2026).
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.11 WIB, rupiah tercatat turun 0,05% atau 9 poin ke level Rp16.837 per dolar AS, seiring indeks dolar AS yang menguat tipis 0,07% ke 96,98.
Penguatan dolar dipicu oleh ekspektasi pasar terkait kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan kondisi ekonomi global.
Selama sebulan terakhir, rupiah sempat menguat 0,27%, namun secara tahunan terdepresiasi 3,54%.
Menurut laporan Trading Economics, pasar berhati-hati menjelang pertemuan kebijakan BI minggu depan.
Investor menilai kemungkinan bank sentral melanjutkan siklus pelonggaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, setelah memangkas suku bunga sebesar total 150 basis poin sejak September 2024.
"Sentimen juga tertekan oleh kekhawatiran kredibilitas kebijakan Bank Sentral pasca pelantikan Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo, sebagai wakil gubernur awal pekan ini," tulis Trading Economics.
Risiko eksternal turut membebani rupiah, termasuk potensi pengawasan Uni Eropa terhadap aliran minyak Rusia yang dapat mengganggu perdagangan global.
Selain itu, data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan meredam harapan pemangkasan suku bungaThe Fed dalam waktu dekat.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.820–Rp16.850 hingga penutupan perdagangan hari ini.
"Tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, sementara penerimaan masih belum sepenuhnya pasti," ujarnya.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, belanja pemerintah ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun, melonjak Rp391,3 triliun dibanding realisasi 2025 sebesar Rp3.451,4 triliun.