Rupiah tercatat berada di level Rp16.827 per USD, naik sembilan poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.836 per USD, mengutip data Bloomberg.
Namun, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah sedikit melemah di level Rp16.839 per USD dibandingkan pembukaan perdagangan sebelumnya sebesar Rp16.835 per USD.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman, menyebut penguatan rupiah sejalan dengan data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Inflasi AS tercatat naik 0,2 persen month-to-month (mom), lebih rendah dari dugaan 0,3 persen.
Secara year-on-year (yoy), inflasi turun dari 2,7 persen menjadi 2,4 persen, di bawah perkiraan 2,5 persen.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan," ujar Lukman, seraya menambahkan penurunan inflasi dipengaruhi oleh dampak tarif yang mulai menghilang.
Faktor Pembatas Penguatan
Meski menguat, rupiah diperkirakan bergerak terbatas karena sentimen domestik masih negatif. Faktor yang mempengaruhi antara lain: penurunan peringkat kredit, tekanan float dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), defisit anggaran, dan prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Selain itu, pelemahan dolar AS tidak terlalu signifikan karena data pekerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang dirilis beberapa hari lalu jauh lebih kuat dari perkiraan.
Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.750–Rp16.900 per USD dalam beberapa hari ke depan.*
(mt/dh)
Editor
: Adam
Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.827 per Dolar AS, Terdorong Data Inflasi AS yang Lebih Rendah dari Perkiraan