JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini dibuka melemah, mengikuti penguatan mata uang Negeri Paman Sam.
Pada perdagangan pasar spot Selasa (24/2), rupiah tercatat di level Rp16.828 per dolar AS, atau menyusut 0,2% dari posisi penutupan kemarin.
Penguatan dolar AS didorong oleh kenaikan indeks dolar terhadap enam mata uang utama dunia sebesar 0,14% ke 97,84, setelah dua hari perdagangan sebelumnya melemah hingga 97,69.
Sentimen risk-on yang sempat menguat kemarin kini terbatas, dan mata uang Asia secara umum bergerak melemah.
Katalis utama datang dari kebijakan moneter China. People's Bank of China (PBOC) menetapkan kurs tengah dolar-AS–yuan di level lebih tinggi dari ekspektasi pasar, di angka 6,9414.
Penetapan ini menandakan sikap berhati-hati otoritas moneter dalam mengelola laju apresiasi renminbi, sekaligus memicu penguatan dolar AS terhadap sebagian besar mata uang utama, termasuk euro, yen Jepang, dan rupiah.
"Fixing yuan di atas ekspektasi pasar memperkuat persepsi bahwa penguatan yuan akan dilakukan secara bertahap, sambil menjaga stabilitas pasar domestik China," jelas analis Bloomberg.
Akibatnya, mata uang Asia lain seperti won Korea Selatan melemah 0,22%, yen Jepang dan ringgit Malaysia masing-masing turun 0,18%, sementara rupiah juga ikut tertekan.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati risiko geopolitik di Timur Tengah, di tengah meningkatnya kemungkinan eskalasi konflik AS-Iran.
Kondisi ini membuat investor menyalurkan aset ke dolar AS sebagai safe haven, membatasi ruang penguatan rupiah di pasar spot.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah dapat bertambah jika arus modal asing kembali keluar dari pasar obligasi pemerintah.
Lelang Surat Utang Negara (SUN) terakhir mencatat permintaan menurun, menandakan sikap wait-and-see investor terhadap arah kebijakan fiskal dan dinamika pembiayaan defisit.