Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata hargadaging ayam saat ini mencapai Rp44.400 per kilogram, meningkat dari kisaran Rp38.000—Rp40.000 per kg sebelum Ramadan.
Sejumlah pasar mencatatkan harga lebih tinggi. Di Pasar Aek Habil, Kota Sibolga, harga daging ayam bahkan mencapai Rp51.500 per kg.
Sementara itu, harga terendah tercatat Rp42.000 per kg di Pasar Beringin, Kota Gunungsitoli, dan Pasar Dwikora, Pematangsiantar.
Di Kota Medan, Pasar Brayan menjadi lokasi dengan harga tertinggi, yakni Rp46.500 per kg.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyebut bahwa penurunan pasokan ayam pada pekan pertama Ramadan menjadi salah satu pemicu kenaikan harga.
"Pasokan sempat naik 10% sebelum puasa, tetapi menurun 9% saat pekan pertama Ramadan," ujar Gunawan, Kamis (26/2/2026).
Menurut Gunawan, para pedagang berpotensi menambah pasokan ayam hidup, namun harga jagung pakan yang masih tinggi di atas Rp6.100 per kg, serta meningkatnya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kebutuhan hari besar, membuat penurunan hargadaging ayam dalam waktu dekat sulit terjadi.
Meski begitu, hasil observasi menunjukkan pasokan daging ayam relatif stabil hingga menjelang Idulfitri.
Gunawan menekankan bahwa kenaikan hargadaging ayam berkaitan erat dengan rantai pasok pakan, obat-obatan, harga pakan impor, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta kapasitas produksi ayam indukan.
"Negara harus hadir dalam mengendalikan harga karena isu ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh produsen. HPP [harga pokok produksi] harus diperhitungkan dengan cermat agar stabilitas pangan terjaga," tegasnya.
Kenaikan hargadaging ayam ini menjadi perhatian utama menjelang Ramadan, di tengah upaya masyarakat dan pemerintah memastikan kecukupan pangan serta keterjangkauan harga bagi masyarakat.*