Data Bloomberg pukul 09.23 WIB mencatat rupiah melemah 0,29 persen ke level Rp 16.921 per dollar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen risk-off akibat eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Ketegangan geopolitik ini mendorong investor global mengalihkan dana dari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang, ke dollar AS sebagai aset safe haven.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian pasar.
Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi global, mendorong harga minyak naik, yang dapat memperlebar defisit energi Indonesia dan menimbulkan risiko inflasi domestik.
"Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan sentimen risk-off dari perkembangan perang AS-Israel dan Iran. Pergerakannya cenderung terbatas dengan kecenderungan melemah," ujar Lukman. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.800–Rp 16.950 per dollar AS.
Situasi ini menunjukkan bahwa rupiah masih rentan terhadap guncangan eksternal, terutama dari ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga energi global, yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi domestik.*
(k/dh)
Editor
: Nurul
Rupiah Tertekan, Nilai Tukar Nyaris Sentuh Rp 17.000 per Dollar AS