BREAKING NEWS
Kamis, 09 April 2026

Harga Cabai Merah Anjlok Pascalibur Lebaran 2026, Pengamat Ekonomi Sumut Ungkap Tiga Penyebab Utama

Abyadi Siregar - Selasa, 31 Maret 2026 17:44 WIB
Harga Cabai Merah Anjlok Pascalibur Lebaran 2026, Pengamat Ekonomi Sumut Ungkap Tiga Penyebab Utama
Cabai merah. (foto: Dok. Diskominfo Sumut)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN Harga cabai merah di pasar tradisional Kota Medan dan sekitarnya mengalami penurunan signifikan pascalibur Idulfitri 2026.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah sempat menyentuh titik terendah di kisaran Rp19.800 per kilogram dan kini bertahan di angka Rp21.000 per kilogram.

Penurunan ini menyebabkan dampak yang cukup besar bagi petani, dengan beberapa lapisan pasar mencatatkan harga jual yang jauh lebih rendah dari sebelumnya.

Baca Juga:

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyebutkan bahwa keterpurukan harga cabai ini turut mencerminkan kondisi yang lebih buruk di tingkat produsen.

Dalam kunjungan langsungnya ke beberapa daerah penghasil cabai di Sumut, ia menemukan harga cabai merah yang sangat rendah, bahkan sempat dijual hanya seharga Rp15.000 per kilogram.

"Berdasarkan pemantauan di lapangan, saya menemukan harga cabai merah yang dijual seharga Rp15.000 per kilogram. Bahkan, petani di Deli Serdang mengaku menjual cabai mereka hanya dengan harga Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram," ujar Gunawan, Selasa (31/03/2026).

Menurut Gunawan, ada tiga faktor utama yang menyebabkan harga cabai merah anjlok secara tajam pasca-libur lebaran.

Berikut adalah penjelasan rinci mengenai ketiga faktor tersebut:

1. Anomali Cuaca dan Bencana Alam

Gunawan menjelaskan bahwa bencana banjir besar yang terjadi pada akhir tahun 2025 memaksa petani cabai untuk menanam ulang tanaman mereka.

Banjir yang melanda sebagian besar lahan pertanian di wilayah Sumatera Utara, terutama di Deli Serdang, mengubah siklus panen raya, yang seharusnya terjadi pada awal Ramadhan, mundur ke bulan Maret.

Kondisi ini menyebabkan pasokan cabai melimpah di pasar pada bulan Maret, tepat setelah liburan Idulfitri, yang berujung pada penurunan harga.

"Bencana pada November 2025 telah memaksa petani untuk menanam ulang tanaman cabai, yang mengakibatkan penumpukan pasokan pada bulan Maret. Hal ini memperburuk kondisi pasar," ungkapnya.

2. Limpahan Pasokan dari Wilayah Tetangga (Aceh)

Meskipun wilayah Aceh terdampak banjir besar, pemulihan hasil panen di sana jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Gunawan menemukan bahwa pasokan cabai merah dari Aceh tetap mengalir, bahkan setelah bencana melanda.

Pasokan yang melimpah dari Aceh ini justru menambah persediaan cabai di Sumatera Utara, memperburuk kondisi harga yang sudah anjlok.

"Pasokan cabai dari Aceh, yang sebelumnya terhambat akibat banjir, ternyata pulih lebih cepat. Hal ini membanjiri distribusi ke Sumatera Utara dan semakin menekan harga di pasar," tambah Gunawan.

3. Kurangnya Organisasi Pola Tanam di Kalangan Petani

Faktor ketiga yang berkontribusi pada penurunan harga cabai adalah kurangnya koordinasi antara petani dalam menentukan waktu tanam.

Gunawan menyebutkan bahwa petani sering kali menanam cabai secara serentak dengan harapan bisa meraup keuntungan dari tingginya permintaan saat perayaan hari besar seperti Idulfitri.

Namun, strategi ini justru berujung pada penumpukan pasokan yang sangat banyak pada waktu yang sama, sehingga menyebabkan harga cabai merosot drastis.

"Petani sering kali terjebak dalam pola tanam yang tidak terorganisir dengan baik. Mereka semua menanam pada waktu yang hampir bersamaan, berharap mendapat cuan di saat perayaan Idulfitri, yang justru berujung pada penumpukan cabai dan penurunan harga yang tajam," papar Gunawan.

Gunawan menekankan pentingnya adanya konsistensi dalam pengelolaan sektor pertanian untuk menghindari fluktuasi harga yang ekstrem.

Ia juga berharap ada solusi jangka panjang yang dapat menjaga stabilitas harga dan mencegah kerugian terus-menerus bagi petani.

"Konsistensi dalam pola tanam dan pengelolaan yang terorganisir sangat dibutuhkan agar petani tidak terus menerus merugi. Solusi jangka panjang harus ditemukan untuk menjaga keberlanjutan usaha tani," pungkas Gunawan.

Sementara itu, petani berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat membantu mengatur distribusi dan pola tanam, serta memberi pelatihan kepada petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen dan mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga.*


(sp/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Eks Kepala Bank BNI Aek Nabara Gelapkan Rp 28 Miliar Uang Jemaat Gereja, Polda Sumut Ajukan Permohonan Penyitaan Aset
Wali Kota Medan Buka Musrenbang RKPD 2027, Targetkan Peningkatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat
Aktivis Hukum Binjai Apresiasi Kinerja Dirnarkoba Polda Sumut dalam Pemberantasan Narkoba
Sumut Dorong Penguatan IKM, Kawasan Industri dan Hilirisasi Komoditas Unggulan Jadi Kunci Peningkatan Ekonomi Daerah
Banggar DPR RI Desak Pemerintah Hentikan Kompensasi Listrik untuk Orang Kaya Demi Stabilitas Fiskal
Pemprov Sumut Terima Rp 4,5 Miliar dari Sektor Pertambangan pada 2025, Targetkan Peningkatan PAD
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru