BREAKING NEWS
Sabtu, 04 April 2026

Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.985, Apa Dampaknya pada Ekonomi Indonesia?

Adelia Syafitri - Kamis, 02 April 2026 09:26 WIB
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.985, Apa Dampaknya pada Ekonomi Indonesia?
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2026).

Rupiah tercatat berada di posisi Rp16.985 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 2 poin atau 0,01% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,24% ke level 99,89, menambah tekanan terhadap mata uang domestik.

Baca Juga:

Sebagian besar mata uang di Asia juga menunjukkan pergerakan serupa, dengan yen Jepang melemah 0,30% dan won Korea turun sebesar 0,51%.

Yuan China serta baht Thailand masing-masing terdepresiasi 0,13% dan 0,37% terhadap dolar AS, menandakan adanya pengaruh global yang luas terhadap pasar mata uang.

Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, menyatakan bahwa pelemahan rupiah kemungkinan akan terus berlanjut dengan kisaran berada di rentang Rp16.980 hingga Rp17.020 per dolar AS pada penutupan hari ini.

Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gejolak ekonomi global yang semakin meningkat, salah satunya disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, pasar juga mencermati penurunan signifikan dalam data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026, yang tercatat turun tajam ke level 50,1 dari 53,8 pada bulan sebelumnya.

Meskipun angka ini masih berada di zona ekspansi, penurunan output manufaktur menjadi yang paling tajam dalam sembilan bulan terakhir, mencerminkan dampak dari kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material yang dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah.

Namun, pelemahan rupiah sedikit tertahan oleh kabar positif dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$1,27 miliar.

Ini menandai tren surplus perdagangan Indonesia yang berlanjut selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus ini terutama didorong oleh ekspor komoditas nonmigas, seperti lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Tapi Ada Peluang Menguat!
Harga Emas Antam Menguat! 1 Gram Kini Sentuh Rp 2,92 Juta
Bupati Labuhanbatu Selatan Hadiri Kunjungan Kerja Komisi II DPR RI di Medan, Dorong Tata Kelola BUMD dan Bank Daerah yang Profesional
Prabowo Subianto Saksikan 10 MoU Indonesia–Korea Selatan, Perkuat Kemitraan Strategis
Kunker Komisi II DPR RI ke Bank Sumut, Rico Waas Harap Perkuat Kinerja BUMD
Ribuan Karya Dilindungi! Menteri Hukum Serahkan Sertifikat Kekayaan Intelektual di Bali
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru