BREAKING NEWS
Senin, 06 April 2026

Rupiah Tertahan di Level Rp17.000/US$, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia?

Adam - Senin, 06 April 2026 09:05 WIB
Rupiah Tertahan di Level Rp17.000/US$, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia?
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) kembali menunjukkan volatilitas yang cukup signifikan.

Setelah sempat menguat pada Kamis (2/4), rupiah offshore kembali mengalami pelemahan pada Jumat (3/4), dan pada Senin (6/4), dibuka di level Rp17.012/US$, meskipun sempat kembali tergelincir ke posisi Rp17.014/US$.


Kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan berkelanjutan pada mata uang Indonesia di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh gejolak geopolitik.

Baca Juga:

Hal ini berimbas pada hampir seluruh mata uang negara berkembang, termasuk ringgit Malaysia yang turun 0,07%, yen Jepang yang melemah 0,06%, dan yuan offshore yang bergerak turun 0,03%.

Di sisi lain, dolar Hong Kong sedikit menguat 0,02%, namun pergerakan pasar cenderung stagnan.

Salah satu faktor utama yang mengarah pada fluktuasi mata uang Asia, termasuk rupiah, adalah lonjakan harga minyak mentah yang kembali melesat.

Pada hari ini, harga minyak Brent tercatat naik 1,52% dan berada di level US$110,69 per barel.

Kenaikan ini terjadi seiring dengan kabar mengenai kerusakan aset energi di Timur Tengah yang akan berdampak panjang terhadap pasokan minyak global, meskipun OPEC+ berencana menambah produksi 206 ribu barel per hari mulai Mei 2026.

Namun, gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk, terutama terkait dengan Selat Hormuz yang masih terblokir, menyebabkan ketidakpastian di pasar global.

Dengan kondisi ini, meskipun ada kebijakan kenaikan produksi dari negara-negara penghasil minyak utama seperti Arab Saudi dan Rusia, dampaknya terhadap stabilitas pasokan minyak global belum terlihat secara nyata.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap ekonomi domestik.

Harga energi yang tinggi berpotensi memperbesar defisit transaksi berjalan, meningkatkan kebutuhan impor, dan pada gilirannya menambah beban biaya untuk barang-barang yang bergantung pada bahan baku impor.

Kenaikan harga plastik, yang telah melonjak 50%, menjadi contoh nyata dampak dari lonjakan harga minyak ini, mengingat plastik adalah bahan kemasan utama bagi berbagai produk makanan dan minuman.

Inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) semakin terasa di Indonesia, sementara inflasi inti justru melambat menjadi 2,52%.

Tekanan ini dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan menekan pertumbuhan ekonomi, terutama jika harga barang-barang pokok semakin tinggi.

Dengan kondisi ini, ruang Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga rendah semakin terbatas.

Kenaikan harga minyak dan bahan baku yang lebih tinggi bisa memaksa BI untuk melakukan penyesuaian kebijakan moneter guna menahan laju inflasi, meskipun hal ini berisiko memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.

Secara teknikal, rupiah diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan hari ini.

Target pelemahan rupiah bisa mencapai Rp17.050/US$ hingga Rp17.100/US$.

Jika level ini tembus, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut menuju Rp17.200/US$, tergantung pada kondisi pasar dan dinamika geopolitik.

Dalam tren jangka menengah, jika rupiah tidak dapat bertahan di level support yang ada, maka dapat berpotensi menciptakan level terendah baru (All Time Low).

Namun, jika ada tanda-tanda penguatan, resistance terdekat untuk rupiah dapat bergerak menuju Rp16.980/US$, dengan range pergerakan di antara Rp16.940/US$ hingga Rp16.900/US$.*


(bb/ad)

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Di Atas Bahu Jalan, di Bawah Bayang-Bayang Pembiaran: Jejak Usaha Potong Ayam di Talawi
Strategi Cerdas Pemkot Tanjungbalai Turunkan Tingkat Pengangguran Hingga 3,81% pada 2025
Mentan Amran Minta Harga Pestisida Tak Naik Berlebihan: Untung Boleh, Tapi Jangan Banyak-Banyak
KRI Bima Suci Bersandar di Belawan, Wali Kota Medan Sambut Peserta ASEAN Plus Cadet Sail 2026
Jokowi Telepon Putra Mahkota Arab Saudi: Yang Mulia MBS, Kapan Perangnya Selesai?
Daftar Harga Emas Antam Terkini Per 5 April 2026: 1 Gram Tetap Rp2,85 Juta
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru