Selat yang strategis ini, yang melayani sekitar 20% kebutuhan minyak dunia, telah ditutup oleh otoritas Iran, membuat sejumlah kapal terjebak di kawasan Teluk Persia.
Meskipun begitu, kabar baik datang bagi negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan Iran, yang mulai diizinkan untuk melintasi jalur vital ini.
Indonesia masih menghadapi kendala dalam meloloskan dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) yang terjebak di Teluk Persia, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Pemerintah Indonesia, melalui PT Pertamina International Shipping (PIS) dan Kementerian Luar Negeri, mengungkapkan bahwa negosiasi dengan pihak Iran masih terus berlangsung.
Menurut Corporate Secretary PIS, Vega Pita, upaya diplomasi dengan otoritas terkait terus dilakukan untuk memastikan keselamatan pelayaran kedua kapal tersebut.
Iran telah mengonfirmasi bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk negara-negara yang dianggap sebagai "sahabat," termasuk China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa jalur perdaganganmigas ini hanya diblokir bagi kapal-kapal yang "terkait dengan musuh" Iran.
Meskipun demikian, beberapa negara memilih menghindari jalur ini karena kekhawatiran akan keselamatan kapal mereka, sementara beberapa lainnya terhambat oleh masalah asuransi.
Negara-negara Sahabat yang Telah Diberi Izin Melintas
Berikut adalah negara-negara yang sudah diizinkan Iran untuk melewati Selat Hormuz:
1. China – Dua kapal kontainer dari Cosco Shipping Corp., perusahaan pelayaran milik negara China, berhasil melintas dari Teluk Persia pada 30 Maret 2026, menandai pertama kalinya kapal besar yang didukung Beijing melewati jalur ini sejak konflik dimulai. 2. Thailand – Perusahaan Bangchak Corporation berhasil memastikan kapal tanker milik mereka dapat melintasi Selat Hormuz setelah koordinasi dengan pemerintah Thailand, Iran, dan Oman. 3. Malaysia – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan pada 26 Maret bahwa kapal-kapal Malaysia yang terjebak di Teluk Persia akhirnya diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya tol. 4. Jepang – Menteri Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa kapal-kapal Jepang juga diperbolehkan melintas setelah melakukan konsultasi dengan pejabat Jepang. 5. Irak – Iraq dikecualikan dari pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, membuka kemungkinan untuk mengirimkan 3 juta barel minyak per hari melalui jalur ini. 6. Filipina – Menteri Luar Negeri Iran memberikan jaminan bahwa kapal Filipina dapat melewati Selat Hormuz dengan aman, setelah adanya koordinasi yang intens antara kedua negara. 7. Pakistan – Pakistan memperoleh izin untuk 20 kapal tambahan berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz, dengan dua kapal melintasi jalur ini setiap harinya. 8. India – Dua kapal tanker India berhasil melintasi selat pada akhir Maret, membawa gas minyak cair (LPG). 9. Bangladesh – Iran juga memberi izin untuk enam kapal Bangladesh yang sebelumnya terjebak di Teluk Persia. 10. Turki – Salah satu kapal Turki yang terjebak di dekat Iran telah diizinkan melewati Selat Hormuz setelah mendapatkan izin dari Teheran. 11. Oman – Kapal-kapal Oman Shipping Management juga berhasil melintasi Selat Hormuz, dengan satu kapal pengangkut LNG diizinkan melintas pada 2 April 2026. 12. Rusia – Iran mengizinkan kapal-kapal Rusia melintasi Selat Hormuz, memperkuat hubungan kedua negara di tengah konflik regional ini.
Penutupan atau pembatasan jalur ini dapat mempengaruhi harga minyak global, yang telah melihat lonjakan harga sejak dimulainya konflik.
Negara-negara yang terjebak di Teluk Persia kini berharap dapat menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi yang intens antara Iran, negara asal kapal, dan pihak terkait lainnya.
Namun, sejumlah kapal masih menghadapi kesulitan untuk melintas akibat kekhawatiran akan keselamatan di tengah ketidakpastian perang ini.
Beberapa negara, meskipun sudah mendapatkan izin, tetap berhati-hati dalam menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran.*