BREAKING NEWS
Sabtu, 30 Mei 2026

Kemenpar Lihat Peluang di Balik Rupiah Melemah: Indonesia Makin Menarik bagi Turis Asing

Raman Krisna - Sabtu, 30 Mei 2026 21:25 WIB
Kemenpar Lihat Peluang di Balik Rupiah Melemah: Indonesia Makin Menarik bagi Turis Asing
Turis asing berbelanja oleh-oleh di Bali pada Sabtu, 12 November 2022. (foto: AP via VOA Indonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BADUNG - Kementerian Pariwisata menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat justru dapat membuka peluang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.

Dengan melemahnya rupiah, biaya perjalanan dan berwisata di Indonesia dinilai menjadi lebih kompetitif di mata wisatawan asing.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan kondisi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat sektor pariwisata nasional di tengah berbagai tantangan global.

Baca Juga:

"Ini peluang, selalu tidak pernah kita tolak. Selalu ada tantangan pasti ada peluangnya, peluang pelemahan rupiah ini kita garap," kata Ayu dalam pameran perjalanan di Kabupaten Badung, Bali, Sabtu, 30 Mei 2026.

Menurut dia, dari perspektif wisatawan mancanegara, pelemahan rupiah justru meningkatkan daya beli mereka saat berlibur di Indonesia.

Dengan nilai tukar yang lebih menguntungkan, pengeluaran wisatawan menjadi relatif lebih murah dibanding sebelumnya.

"Kalau kami melihat dari kacamata konsumen, tentu dengan pelemahan rupiah ini nilai terbaik untuk uang. Dulu Rp1 juta bisa beli apa, sekarang bertambah," ujarnya.

Kemenpar juga mencatat adanya peningkatan kunjungan wisatawan dari sejumlah negara tetangga, salah satunya Malaysia, yang diuntungkan oleh selisih nilai tukar mata uang.

Namun demikian, pemerintah mengingatkan bahwa sektor pariwisata tetap menghadapi tantangan global, terutama akibat dinamika geopolitik yang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan biaya penerbangan internasional.

Kondisi ini dinilai dapat menekan minat wisatawan dari pasar jarak jauh seperti Eropa dan Amerika.

"Dulu kita fokus ke Eropa dan Amerika, sekarang lebih realistis ke Asia, ASEAN, dan Australia. Ini harus dikombinasikan," kata Ayu.

Selain itu, pelaku industri pariwisata juga dihadapkan pada tantangan biaya operasional, terutama karena ketergantungan terhadap sejumlah produk impor.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kawasan Monumen SMSI di Alun-Alun Cilegon Ditata Ulang, Disebut Simbol “Titik Nol” Pers Digital
IHSG Terus Melemah! Ini Penyebab Utama Turunnya Indeks Saham BEI Pekan Ini
Ekonomi Indonesia Tetap Kuat Saat Dunia Bergejolak, Wamenkeu Ungkap Alasannya
Aset Tembus Rp1,5 Triliun, KSP Kopdit Obor Mas Jadi Sorotan Kemenkop
Rupiah Dekati Rp17.900 per Dolar AS, Pemerintah Pastikan APBN Aman dan BBM Subsidi Tak Naik
Dolar AS Diprediksi Tembus Rp18.000, Rupiah Masih Dibayangi Tekanan Berat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru