Warga Medan mulai merasakan lonjakan harga berbagai produk plastik di pasaran, seperti wadah makanan jenis thinwall. Salah satu warga, Elly, mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang cukup signifikan.
"Biasanya beli yang ukuran 750 ml itu sekitar Rp30 ribu, sekarang sudah Rp40 ribu. Yang 1 liter juga naik jadi Rp43 ribu," ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Kenaikan harga ini dibenarkan oleh Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Disperindag ESDM Sumut, Charles Situmorang.
Menurutnya, lonjakan harga plastik dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia serta terganggunya pasokan bahan baku impor. "Plastik berbahan dasar petrokimia, sehingga saat harga minyak dunia naik, biaya produksi ikut meningkat," kata Charles.
Ia menjelaskan, gangguan distribusi dari Timur Tengah sebagai salah satu sumber utama impor bahan baku plastik juga menjadi faktor utama.
Selain itu, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor membuat harga plastik sangat sensitif terhadap gejolak global. Meski demikian, Charles memastikan bahwa saat ini belum terjadi kelangkaan plastik di pasaran.
"Saat ini belum terjadi kelangkaan, hanya kenaikan harga," ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari diversifikasi impor bahan baku dari negara lain hingga pemberian insentif pajak bagi pelaku usaha.
Dalam jangka panjang, pemerintah juga akan mendorong penguatan industri petrokimia dalam negeri serta penggunaan alternatif kemasan seperti bioplastik dan produk yang dapat digunakan ulang.*
(ds/dh)
Editor
: Adelia Syafitri
Plastik di Medan Makin Mahal, Dampak Konflik Global dan Harga Minyak Naik