JAKARTA — Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali melemah pada awal perdagangan Rabu, 22 April 2026, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat potensi jeda konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta sikap pelaku pasar yang menanti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka melemah 0,03 persen ke level Rp17.150 per dolar AS.
Tak lama setelah pembukaan, mata uang Garuda kembali tertekan 0,12 persen ke posisi Rp17.165 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.
Pelemahan ini terjadi setelah rupiah sempat menguat selama dua hari berturut-turut. Namun, tekanan global membuat penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Di kawasan Asia, pergerakan rupiah tampak tidak sejalan dengan mayoritas mata uang regional.
Won Korea Selatan tercatat menguat 0,13 persen, dolar Singapura naik 0,09 persen, sementara yuan offshore dan yen China masing-masing menguat 0,07 persen.
Sebaliknya, rupiah bergerak bersama sejumlah mata uang yang tertekan, seperti baht Thailand yang melemah 0,36 persen, peso Filipina 0,29 persen, ringgit Malaysia 0,15 persen, serta dolar Taiwan 0,03 persen.
Secara kuartalan, rupiah tercatat telah terdepresiasi 1,59 persen.
Sejak awal April, pelemahan mencapai 0,87 persen, menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan, di tengah tren penguatan mata uang Asia lainnya.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga domestik.
Sebelum konflik di Timur Tengah meningkat, rupiah sudah tertekan oleh kekhawatiran fiskal akibat rencana belanja ekspansif pemerintah yang memicu penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat.
Ketegangan geopolitik AS–Iran kemudian memperburuk sentimen pasar, terutama karena lonjakan harga minyak mentah yang kini bertahan di kisaran US$90 per barel.