BREAKING NEWS
Senin, 15 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp17.251 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah!

Adelia Syafitri - Kamis, 23 April 2026 09:33 WIB
Rupiah Tembus Rp17.251 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah!
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis, 23 April 2026.

Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.

Berdasarkan data real-time Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,32 persen ke posisi Rp17.230 per dolar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga:

Tak lama kemudian, pelemahan berlanjut hingga 0,44 persen ke Rp17.251 per dolar AS.

Level tersebut menjadi yang terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau relatif stabil di level 98,58 pada pukul 08.50 WIB.

Namun tekanan terhadap rupiah dipicu faktor eksternal lain, terutama kenaikan harga minyak mentah global.

Harga minyak Brent tercatat kembali melambung ke US$102,7 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$97 per barel.

Kenaikan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan memperketat ruang pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung beragam. Beberapa mata uang seperti dolar Taiwan, yuan China, yen Jepang, dan dolar Hong Kong mencatat penguatan tipis.

Sebaliknya, sejumlah mata uang melemah, termasuk peso Filipina, baht Thailand, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia. Rupiah tercatat sebagai salah satu yang tertekan paling dalam.

Tekanan juga terjadi di pasar saham Asia.

Indeks Nikkei Jepang turun 0,53 persen, Topix melemah 0,89 persen, KOSDAQ Korea Selatan turun 0,19 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 0,85 persen, dan FTSE Straits Times Singapura turun 0,83 persen.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia hanya turun tipis 0,03 persen.

Di pasar obligasi, aksi jual masih berlanjut dengan kenaikan imbal hasil di hampir seluruh tenor.

Obligasi tenor 10 tahun naik menjadi 6,61 persen, sementara tenor 5 tahun dan 3 tahun juga mengalami kenaikan terbatas.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter untuk meredam tekanan nilai tukar, termasuk intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral juga memberi ruang bagi bank untuk melakukan transaksi NDF secara langsung melalui dealer utama guna menjaga stabilitas rupiah.

Selain itu, BI memperkuat penggunaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen penyerapan likuiditas.

Imbal hasil SRBI tenor 12 bulan tercatat naik ke 5,76 persen, level tertinggi sejak Juli tahun lalu, yang dinilai masih menarik bagi investor asing.*


(bb/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Harga Emas Antam Ambruk Lagi! Kini Rp 2,8 Juta per Gram, Saatnya Beli atau Jual?
Stigma Kanibalisme di Sumatra Utara Diduga Dibentuk Demi Kepentingan Dagang, Ini Penjelasannya
HIMMAH dan ISARAH Batu Bara Tolak Isu Provokatif, Ajak Masyarakat Jaga Stabilitas dan Iklim Investasi
Palsukan Dokumen untuk Cairkan Asuransi Rp490 Juta, Ngadinah Dituntut 1 Tahun Penjara di PN Medan
IHSG Terkoreksi ke Level 7.541, Transaksi Capai Rp17,9 Triliun di Tengah Variasi Pergerakan Saham
Purbaya Soroti Proyek Infrastruktur Tak Termonitor, Singgung Whoosh hingga LRT
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Ketika Bangsa Sedang Lelah

Ketika Bangsa Sedang Lelah

OlehDr. Rika Hardani, M.Si. Dosen.BELAKANGAN ini, ada satu fenomena sosial yang terasa semakin nyata di tengah kehidupan masyarakat Indones

OPINI