BREAKING NEWS
Sabtu, 15 Agustus 2026

Rupiah Tertekan ke Rp17.286 per Dolar AS, Sentimen Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Biang Kerok

Nurul - Kamis, 23 April 2026 17:39 WIB
Rupiah Tertekan ke Rp17.286 per Dolar AS, Sentimen Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Biang Kerok
ilustrasi Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026). Rupiah ditutup turun 105 poin atau 0,61 persen ke level Rp17.286 per dolar AS. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026). Rupiah ditutup turun 105 poin atau 0,61 persen ke level Rp17.286 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam waktu dekat. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih berada dalam tren pelemahan.

"Perdagangan besok kemungkinan besar rupiah masih akan melemah di kisaran Rp17.280 sampai Rp17.340 per dolar AS," ujarnya.

Baca Juga:

Menurut Ibrahim, tekanan utama berasal dari faktor eksternal, terutama ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah perundingan yang berlangsung di Pakistan tidak mencapai hasil, ditambah absennya delegasi Iran.

Situasi semakin memanas usai Amerika Serikat menangkap kapal tanker Iran di Selat Hormuz. Langkah tersebut memicu reaksi keras dari Iran dan meningkatkan kekhawatiran pasar global.

Selain itu, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian pelaku pasar. Rencana pergantian pimpinan bank sentral memunculkan spekulasi terkait arah suku bunga yang berpotensi tetap tinggi atau bahkan meningkat. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, tekanan datang dari tingginya harga minyak dunia. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi membutuhkan pasokan dolar AS dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Harga minyak global saat ini masih berada di level tinggi, dengan Brent di kisaran 103 dolar AS per barel dan WTI sekitar 98 dolar AS per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban subsidi energi serta tekanan terhadap anggaran negara.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar. Upaya ini dinilai mampu menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam dalam jangka pendek.

Meski demikian, tekanan eksternal yang kuat membuat pergerakan rupiah masih cenderung rentan dalam waktu dekat.*

(k/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Lemhannas RI Bawa 110 Peserta P4N ke KPK, Tekankan Pendidikan Antikorupsi bagi Calon Pemimpin Nasional
Eks Ketua DPD PDIP Sumut Japorman Saragih Ajak Kader Turun ke Rakyat, Ingatkan Pesan “Jas Merah”
IHSG Dibuka Menguat ke 7.576, Saham BDMN Melonjak Hampir 20 Persen
Harga Emas Antam Ambruk Lagi! Kini Rp 2,8 Juta per Gram, Saatnya Beli atau Jual?
BI Proyeksikan The Fed Tahan Suku Bunga hingga Akhir 2026 Imbas Ketegangan Geopolitik Global
Puan Maharani Soroti Lonjakan Harga Energi dan Sembako, Nilai Bebani Daya Beli Masyarakat Kecil
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru