BREAKING NEWS
Kamis, 23 April 2026

BI Proyeksikan The Fed Tahan Suku Bunga hingga Akhir 2026 Imbas Ketegangan Geopolitik Global

Nurul - Rabu, 22 April 2026 18:47 WIB
BI Proyeksikan The Fed Tahan Suku Bunga hingga Akhir 2026 Imbas Ketegangan Geopolitik Global
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: KONTAN/Cheppy A. Muchlis)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ruang penurunan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) atau Fed Funds Rate (FFR) akan semakin terbatas hingga berpotensi bertahan sampai akhir 2026. Kondisi ini dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada ekonomi global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan meningkatnya eskalasi konflik telah mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas dunia, sekaligus memperparah disrupsi rantai pasok internasional.

"Hal ini makin mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global. Penurunan Fed Funds Rate (FFR) diprakirakan mundur atau bahkan bertahan hingga akhir 2026," ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/4/2026).

Baca Juga:

BI mencatat, kondisi tersebut juga berdampak pada prospek ekonomi global tahun 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 3,0 persen, dari sebelumnya 3,1 persen. Sementara itu, inflasi global diproyeksikan naik menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) terus mengalami kenaikan seiring meningkatnya defisit fiskal AS. Hal ini turut mendorong arus modal global mengalir ke aset aman (safe haven), terutama pasar keuangan Amerika Serikat.

"Aliran modal global terus bergeser ke safe-haven assets sejalan dengan meningkatnya preferensi investor terhadap aset aman," kata Perry.

BI juga mencatat penguatan indeks dolar AS (DXY) yang berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk emerging markets, akibat tekanan arus modal global.

Menurut Perry, kondisi global yang memburuk ini menuntut penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter di dalam negeri untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter," ujarnya.*

(oz/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Puan Maharani Soroti Lonjakan Harga Energi dan Sembako, Nilai Bebani Daya Beli Masyarakat Kecil
Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Ini Penjelasan Menlu
Emas Turun Lagi! Harga Antam Anjlok Rp50.000, Saatnya Beli?
Dudung Abdurachman Menghadap Prabowo di Istana, Ini yang Dibahas
Rupiah Tembus Rp17.165 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik AS–Iran Membayangi
RI Kejar Investasi Rp 13.000 Triliun hingga 2029, Rosan Sebut Target dari Bappenas untuk Dorong Ekonomi 8 Persen
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru