Menurutnya, perekonomian domestik Indonesia masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia.
"Tapi untuk saya sih ini (pelemahan rupiah) bukan tanda pemburukan atau dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat," kata Purbaya dalam taklimat media di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan, pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor global serta ekspektasi pasar yang berkembang di tengah dinamika ekonomi dunia.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Keuangan akan terus berupaya meredam gangguan atau "noise" yang dapat memicu persepsi negatif terhadap ekonomi nasional.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat sistem perpajakan dan menutup potensi kebocoran penerimaan negara agar kebijakan fiskal berjalan lebih efektif.
Selain itu, sejumlah kebijakan yang sebelumnya memunculkan polemik juga telah disesuaikan untuk mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan.
Purbaya juga menekankan pentingnya pengelolaan ekspektasi publik dan pelaku pasar agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
"Yang jelas adalah fondasi ekonomi kita tidak berubah. Bahkan akan semakin cepat karena kita akan semakin serius memperbaiki kendala-kendala di perekonomian," ujarnya.
Ia menambahkan, sentimen negatif yang beredar di pasar dapat mempengaruhi persepsi terhadap rupiah, meskipun kondisi fundamental ekonomi tetap stabil.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini tercatat menguat 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.229 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.286 per dolar AS.*
(an/dh)
Editor
: Dharma
Rupiah Sempat Melemah, Purbaya: Ekonomi RI Masih Kuat Dibanding Negara Lain