Anwar mengatakan, meski kondisi saat ini masih terkendali, pemerintah tetap harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari dampak konflik geopolitik, termasuk ketidakstabilan harga energi.
"Yang penting adalah mereka melayani dengan baik," kata Anwar, dikutip dari The Star, Sabtu (18/4/2026).
Ia menambahkan, sebagai perdana menteri yang juga merangkap menteri keuangan, dirinya tidak mempermasalahkan jika gajinya dipotong atau bahkan tidak dibayarkan. Namun ia menekankan bahwa kesejahteraan anggota kabinet tetap perlu diperhatikan selama mereka bekerja dengan baik.
"Bagi saya, tidak masalah jika tidak menerima gaji. Tapi gaji itu adalah hak mereka selama mereka berkinerja baik," ujarnya.
Anwar menegaskan, pemotongan gaji pejabat bisa saja dilakukan apabila kondisi ekonomi negara memburuk secara signifikan.
"Jika situasi ekonomi menjadi memburuk, hal itu dapat dipertimbangkan," katanya.
Sebelumnya, Malaysia diketahui tetap mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi RON 95 di level 1,99 ringgit atau sekitar Rp8.500 meski tekanan pasar energi global meningkat akibat konflik Timur Tengah.*
(in/dh)
Editor
: Nurul
PM Malaysia Anwar Ibrahim Pertimbangkan Pemotongan Gaji Menteri Jika Krisis Timur Tengah Memburuk