BREAKING NEWS
Sabtu, 18 April 2026

IMF Ungkap 12 Negara Ajukan Pinjaman Baru di Tengah Krisis Global Akibat Perang Timur Tengah

Nurul - Sabtu, 18 April 2026 08:15 WIB
IMF Ungkap 12 Negara Ajukan Pinjaman Baru di Tengah Krisis Global Akibat Perang Timur Tengah
Dolar Amerika Serikat. (Foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan sedikitnya 12 negara akan mengajukan pinjaman baru untuk menghadapi tekanan ekonomi global yang dipicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini dinilai memperdalam risiko krisis ekonomi dunia.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut, dampak perang tersebut berpotensi mendorong kebutuhan pembiayaan baru dalam jumlah besar.

"Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru sebesar US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar yang dapat mencakup pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan," ujar Georgieva, dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga:

Ia menyebut beberapa negara di kawasan Afrika Sub-Sahara telah mulai mengajukan bantuan, meski tidak merinci negara mana saja yang dimaksud. Sementara itu, Mesir disebut belum membahas tambahan pinjaman meskipun dampak perang telah mempengaruhi ekonominya.

Kepala Strategi IMF, Christian Mummsen, mengatakan angka kebutuhan pembiayaan tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah setelah dilakukan evaluasi lanjutan bersama negara anggota.

"Ini masih bersifat sementara. Kami masih melakukan evaluasi," ujarnya.

IMF juga memperingatkan bahwa dampak perang tidak akan mereda dalam waktu dekat, terutama jika gangguan jalur distribusi energi terus terjadi akibat ketegangan di kawasan, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz.

Dalam proyeksinya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global turun menjadi 3,1 persen pada 2026, atau lebih rendah 0,2 poin persentase dari proyeksi sebelumnya. Sementara inflasi global diperkirakan naik menjadi 4,4 persen pada tahun ini.

Dalam skenario yang lebih buruk jika konflik AS–Iran berkepanjangan, harga minyak dan gas diperkirakan dapat menembus US$ 100 per barel, dengan pertumbuhan ekonomi global berpotensi turun hingga 2 persen dan mendekati resesi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia tidak membutuhkan bantuan IMF saat ini. Ia menyebut kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih kuat dengan saldo anggaran lebih (SAL) mencapai Rp 420 triliun.*

(d/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Trump Sebut Kesepakatan Damai AS–Iran Sudah Dekat, Komisi I DPR Dorong Indonesia Ambil Peran Diplomasi
Dokter Tifa Akan ke Jepang Telusuri Keaslian Gelar Akademik Rismon Sianipar di Yamaguchi University
Andrie Yunus Kirim Surat ke Presiden Prabowo, Ini Isinya
Kemlu Kaji Izin Terbang Militer AS, Tegaskan Kedaulatan Udara RI dan Politik Bebas Aktif Jadi Prioritas
RI Impor Minyak Rusia Mulai Bulan Ini, Bahlil: Harga Ikuti Mekanisme Pasar Global
Purbaya: RI Punya Pertahanan Fiskal Berlapis, Tak Bergantung IMF dan Bank Dunia
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru