Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax bukan disebabkan oleh menipisnya kondisi keuangan PT Pertamina (Persero), melainkan mengikuti mekanisme pasar untuk bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Pernyataan itu disampaikan Dony saat menghadiri rapat di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6/2026), merespons kenaikan harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
Sementara itu, Pertamax Green naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.
Baca Juga:
"Bukan karena kondisi keuangan Pertamina. Ini perlu diluruskan. Danantara itu berjalan secara komersial, dan untuk BBM non-subsidi memang mengikuti harga pasar," kata Dony.
Ia menjelaskan, Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang seharusnya mengikuti dinamika harga minyak dunia.
Karena itu, penyesuaian harga dinilai sebagai hal yang wajar dalam mekanisme keekonomian.
Menurut Dony, selama ini harga Pertamax sempat tidak mengalami penyesuaian sejak awal Maret 2026, meskipun harga minyak dunia terus berfluktuasi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Saat ini, harga minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran 93 dolar AS per barel.
"Kalau tidak mengikuti harga pasar, masak ditanggung terus-terusan. Ini untuk kelas menengah ke atas," ujarnya.
Dony juga memastikan bahwa kebijakan penyesuaian harga tersebut telah melalui persetujuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Ia menyebut harga yang ditetapkan masih berada di bawah harga keekonomian.
"Itu pun sebenarnya baru sekitar 50 persen dari harga riil. Sudah disepakati bersama Kementerian ESDM melalui Dirjen," kata dia.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.