BREAKING NEWS
Selasa, 23 Juni 2026

IHSG Anjlok 0,98 Persen ke Level 6.116, Rupiah Melemah ke Rp17.843 per Dolar AS

Adelia Syafitri - Senin, 22 Juni 2026 16:49 WIB
IHSG Anjlok 0,98 Persen ke Level 6.116, Rupiah Melemah ke Rp17.843 per Dolar AS
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin, 22 Juni 2026, di zona merah.

Tekanan jual yang terjadi pada mayoritas sektor membuat indeks terkoreksi hampir 1 persen.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga:


Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 60,45 poin atau 0,98 persen ke level 6.116,69.

Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.052,94 hingga 6.226,72.

Aktivitas perdagangan saham terbilang cukup ramai. Volume transaksi mencapai 20,89 miliar saham dengan frekuensi 1,709 juta kali transaksi.

dapun nilai transaksi tercatat sekitar Rp13,45 triliun.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 471 saham mengalami penurunan harga, 227 saham menguat, dan 261 saham bergerak stagnan.

Pelemahan IHSG sejalan dengan kinerja sebagian besar sektor yang berakhir di zona negatif.

Sektor barang baku menjadi sektor dengan penurunan terbesar setelah terkoreksi 2,49 persen.

Disusul sektor perindustrian yang turun 2,36 persen, sektor kesehatan melemah 2,23 persen, serta sektor barang konsumen nonprimer yang turun 1,67 persen.

Sektor keuangan juga mengalami tekanan dengan penurunan 1,58 persen.

Sementara sektor properti dan real estat melemah 1,20 persen, sektor infrastruktur turun 0,97 persen, sektor barang konsumen primer terkoreksi 0,31 persen, dan sektor transportasi turun 0,10 persen.

Di tengah tekanan tersebut, hanya dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau.

Sektor energi mencatat kenaikan 1,47 persen, sedangkan sektor teknologi menguat tipis 0,18 persen.

Sejumlah indeks utama di BEI juga ikut melemah. Indeks LQ45 turun 1,67 persen ke level 599,20.

Jakarta Islamic Index (JII) melemah 1,91 persen menjadi 361,41. KOMPAS100 turun 1,72 persen ke level 794,51 dan IDX30 terkoreksi 1,75 persen menjadi 338,73.

Sementara itu, Indonesia Syariah Stock Index (ISSI) menjadi satu-satunya indeks yang berhasil menguat dengan kenaikan 0,09 persen ke level 213,05.

Di kelompok saham LQ45, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menjadi saham dengan penurunan terdalam setelah anjlok 6,48 persen ke level Rp505 per saham.

Posisi berikutnya ditempati PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 6,47 persen menjadi Rp1.590 per saham dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang melemah 5,43 persen ke Rp348 per saham.

Di sisi lain, beberapa saham berhasil mencatatkan penguatan. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi penguat terbesar setelah naik 4,44 persen ke level Rp1.410 per saham.

Kemudian PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 3,27 persen ke Rp1.265 per saham dan PT Alamtri Resources Tbk (ADRO) naik 3,15 persen ke level Rp2.290 per saham.

Perdagangan bursa saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi.

Indeks SSE Composite China menguat 1,78 persen ke level 4.163,10.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,55 persen menjadi 72.353,96 dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,69 persen ke level 9.114,55.

Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,65 persen menjadi 23.768,52.

S&P/ASX 200 Australia melemah 0,14 persen, sedangkan Asia Dow terkoreksi 1,04 persen.

Selain pasar saham, tekanan juga terjadi pada pasar valuta asing.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 39 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.843 per dollar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan meningkatnya risiko inflasi menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah.

Menurut Ibrahim, sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi mulai menjadi perhatian pelaku pasar dan bank sentral.

"Saat ini terdapat sejumlah faktor risiko inflasi yang mencuat dan menjadi perhatian bank sentral," ujar Ibrahim.

Ia menjelaskan, potensi kenaikan inflasi dapat dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan komoditas global juga berpotensi memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari luar negeri.

Tak hanya itu, kemunculan fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini dinilai dapat memberikan tekanan terhadap harga pangan nasional.

Meski demikian, Bank Indonesia masih meyakini tingkat inflasi akan tetap berada dalam target yang telah ditetapkan, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.

Pelemahan IHSG dan rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati berbagai faktor eksternal maupun domestik yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan.*(km/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Warga Deli Serdang Minta Program MBG Dilanjutkan, Sebut Program Beri Dampak Nyata
DPRD Batu Bara Dorong Pusat UMKM di Pintu Tol Lima Puluh, Potensi Baru Tingkatkan Ekonomi dan PAD Daerah
Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Menguat ke Rp17.813 pada Awal Pekan Perdagangan
Beiranvand Tampil Sempurna, Belgia Frustrasi dan Gagal Taklukkan Iran di Piala Dunia 2026
IHSG Awali Pekan Menguat ke 6.217, Sektor Energi dan Teknologi Jadi Penopang
Sekda Aceh Dukung Sensus Ekonomi 2026, Sebut Data Akurat Kunci Pembangunan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru