BREAKING NEWS
Minggu, 19 Juli 2026

Rupiah Pimpin Penguatan Asia, Dolar AS Melemah di Tengah Optimisme Ekonomi RI

gusWedha - Sabtu, 18 Juli 2026 21:46 WIB
Rupiah Pimpin Penguatan Asia, Dolar AS Melemah di Tengah Optimisme Ekonomi RI
ilustrasi - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan kinerja impresif. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Nilai tukar rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan kinerja impresif. Mata uang Garuda tercatat sebagai yang paling kuat di kawasan Asia setelah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), didorong sentimen positif dari dalam negeri serta melemahnya mata uang Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026) menguat 0,53 persen ke level Rp17.885 per dolar AS. Secara mingguan (point-to-point), rupiah juga mencatat kenaikan sebesar 0,89 persen, menjadi mata uang dengan performa terbaik di Asia selama sepekan.

Di bawah rupiah, won Korea Selatan menguat 0,76 persen. Sementara itu, dolar Singapura dan yuan China masing-masing hanya naik 0,02 persen dan 0,01 persen. Sebaliknya, rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 1,01 persen terhadap dolar AS. Baht Thailand, ringgit Malaysia, dan yen Jepang juga ditutup di zona negatif.

Baca Juga:

Penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari dalam negeri, meningkatnya optimisme investor terhadap perekonomian Indonesia menjadi salah satu penopang utama pergerakan mata uang Garuda.

Pemerintah mencatat realisasi investasi sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut telah memenuhi sekitar 49,5 persen dari target investasi nasional tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengatakan capaian tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga meski kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.

"Realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen," ujar Rosan dalam konferensi pers, Kamis (16/7/2026).

Sementara dari faktor eksternal, dolar AS mengalami pelemahan setelah pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) semakin kecil.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun ke level 100,755. Pelemahan tersebut memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.

Sentimen itu dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat pada Juni yang tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi tersebut membuat peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat semakin menurun.

Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Juli turun menjadi 11 persen, dari sebelumnya 25 persen. Sementara ekspektasi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun juga turun menjadi sekitar 26 basis poin dari sebelumnya 44 basis poin.

Meski demikian, pejabat The Fed masih membuka peluang pengetatan kebijakan moneter apabila tekanan inflasi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, pasar global masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan internasional.

Meski dibayangi sejumlah risiko global, kombinasi kuatnya fundamental ekonomi domestik, tingginya realisasi investasi, serta meredanya tekanan dolar AS dinilai menjadi modal positif bagi rupiah untuk melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek.* (dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru