Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Ferry menjelaskan terdapat sedikitnya dua model yang dapat digunakan untuk mengembangkan hilirisasi sawit berbasis koperasi.
Model pertama adalah memperkuat koperasi yang sudah berjalan dan memiliki basis usaha perkebunan.
Model kedua dilakukan dengan mengonsolidasikan sejumlah koperasi primer ke dalam badan usaha yang lebih besar sehingga memiliki skala ekonomi dan kapasitas usaha yang lebih kuat.
Skema tersebut dinilai penting karena industri pengolahan membutuhkan modal, teknologi, manajemen serta volume produksi yang memadai.
Dari sisi pembiayaan, koperasi dapat memanfaatkan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi.
Ferry mencontohkan Koperasi Mandiri Makmur yang telah memperoleh pembiayaan LPDB untuk pembangunan fasilitas produksi CPO.
"Pembangunannya sudah 45 persen," ungkapnya.
Menurut Ferry, dukungan pembiayaan harus berjalan bersama penguatan kelembagaan dan kemampuan bisnis koperasi.
Tanpa kedua aspek tersebut, hilirisasi berisiko hanya menjadi konsep tanpa mampu menghasilkan perubahan nyata bagi petani.
Pengembangan hilirisasi sawit juga berkaitan dengan pengelolaan lahan yang telah diambil alih negara melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mohammad Abdul Ghani menjelaskan perusahaan mendapat penugasan khusus berdasarkan Perpres Nomor 5 Tahun 2025 untuk mengelola kebun sawit hasil sitaan dari kawasan hutan yang dibuka secara ilegal.
Total lahan yang disebut berasal dari hasil penertiban mencapai sekitar 4,1 juta hektare.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.