Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Menurutnya, keberhasilan koperasi dalam membangun industri pengolahan dapat menjadi contoh bahwa petani memiliki peluang mengembangkan usaha secara lebih mandiri.
"Mudah-mudahan ini bisa meyakinkan petani sawit untuk mau berkoperasi. Harapan kami ada uluran tangan dari Kemenkop terutama dalam pengembangan koperasi eksisting," kata Toha.
Bagi daerah dengan basis perkebunan sawit yang kuat, penguatan koperasi dinilai dapat memberikan dampak berantai.
Selain meningkatkan posisi petani, koperasi yang berkembang juga dapat membuka lapangan kerja, memperluas aktivitas ekonomi lokal serta meningkatkan nilai tambah komoditas di daerah.
Ferry menilai transformasi koperasi menjadi pemain industri merupakan bagian penting dari agenda hilirisasi nasional.
Petani sawit tidak semestinya hanya berhenti sebagai produsen bahan mentah.
Melalui koperasi, mereka dapat dikonsolidasikan untuk membangun skala usaha, memperkuat akses pembiayaan, mengembangkan fasilitas pengolahan dan memasuki pasar produk turunan.
Jika model tersebut berjalan, mata rantai industri sawit akan menjadi lebih terintegrasi.
Petani berada di sektor hulu, koperasi menjadi kendaraan usaha, fasilitas pengolahan menciptakan nilai tambah, sementara pasar hilir membuka peluang pendapatan yang lebih besar.
Pada titik tersebut, koperasi tidak lagi hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat kedaulatan ekonomi petani.
Dengan modal 2.587 koperasi perkebunan yang telah ada, pemerintah kini memiliki basis kelembagaan untuk mempercepat transformasi tersebut.
Tantangannya adalah memastikan koperasi memiliki tata kelola yang sehat, akses modal, kemampuan manajemen, teknologi, kepastian pasar serta kemitraan yang transparan.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.